Tauziah

AGAR ALLAH TAK MEMBUKA AIB KITA

Suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar dan menyeru dengan suara yang tinggi, “Janganlah kalian menyakiti kaum Muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama Muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan, siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada di tengah tempat tinggalnya.” (dari Abdullah bin ‘Umar)

Syekh Mahmud al-Mishri dalam kitabnya Mausu’ah min Akhlaqir-Rasul  mengungkapkan, di zaman sekarang ini sulit untuk menemukan orang yang dapat dipercaya dalam menjaga rahasia. Kebanyakan manusia-kecuali manusia yang mendapat pertolongan Allah-tak dapat menjaga rahasia orang lain. Padahal, membuka aib orang lain termasuk bagian dari khianat.
  
Dalam hadis di atas, Rasulullah menegaskan bahwa menutupi aib dan menjaga rahasia termasuk keutamaan. Nabi SAW menganjurkan agar umatnya senantiasa saling memelihara rahasia dan menutupi aib saudaranya agar dapat hidup bermasyarakat dalam ketenangan, kedamaian, juah dari keresahan, kedengkian, serta balas dendam.

Namun, kita sering melalaikan peringatan ini. Kita kerap kali bermain-main dengan aib. Kita lupa kalau suatu saat Allah SWT pun akan membukakan aib kita tanpa bisa ditolak. Sesungguhnya, ketika membuka aib orang lain, sama dengan memberitahukan aib kita sendiri.

Padahal, dengan menutup aib orang lain, Allah akan menutup aib kita, baik di dunia maupun akhirat. Rasulullah bersabda, “Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia, melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya”.

Aib merupakan sesuatu yang diasosiasikan buruk, tidak terpuji, dan negatif. Manusia tidak bisa lari dengan menutup diri terhadap kekurangannya. Manusia harus berintrospeksi dan menghisab diri sendiri untuk memperbaikinya. Umar bin Khattab berpesan, “Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang.”

Dalam hidup, kita terkadang terlupakan dengan aib-aib sendiri yang begitu menggunung karena begitu seringnya memikirkan  aib orang lain. Kita juga sering lupa untuk bersyukur bahwa Allah telah menjaga aib-aib kita. Sesungguhnya, manusia bukanlah apa-apa jika semua aibnya dibukakan di depan mata orang lain

MANUSIA YANG HATINYA TELAH MATI

Persepsi tentang mati memang berbeda pada setiap orang. Ada yang merasa sudah mati ketika kehilangan kekasihnya. Ada yang merasa mati ketika ludes harta bendanya. Dan, ada yang menganggap hidupnya tak berarti saat dirundung kegagalan dan kedukaan akibat musibah.

Mati bukan hanya ketika seseorang telah mengembuskan napas terakhir, matanya terpejam, detak jantung terhenti, dan jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati biologis. Kematiannya masih bermanfaat karena menjadi pelajaran bagi yang hidup. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah kematian menjadi pelajaran, dan cukuplah keyakinan sebagai kekayaan.” (HR At-Thabrani dari Ammar RA).

Alangkah banyak manusia sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi yang hidup, yakni masjid atau madrasah yang mereka bangun, buku yang mereka tulis, anak saleh yang ditinggalkan, dan ilmu bermanfaat yang telah diajarkan. Meraka mati jasad, tapi pahala terus hidup (lihat QS al-Baqarah [2]: 154).

Sesungguhnya yang perlu diwaspadai adalah mati hakiki, yakni matinya hati pada orang yang masih hidup. Tak ada yang bisa diharapkan dari manusia yang hatinya telah mati. Boleh jadi dia hanya menambah jumlah bilangan penduduk dalam sensus. Hanya ikut membuat macet jalanan dan mengurangi jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau tak merugikan orang lain. Bagaimana halnya dengan koruptor, orang yang merusak, dan menebar kejahatan di muka bumi?

Tanda manusia yang hatinya telah mati, antara lain, kurang berinteraksi dengan kebaikan, kurang kasih sayang kepada orang lain, mendahulukan dunia daripada akhirat, tak mengingkari kemungkaran, menuruti syahwat, lalai, dan senang berbuat maksiat.

Ada tiga hal yang bila kita tinggalkan akan menyebabkan kematian hati. Pertama, bila shalat ditinggalkan, itu akan membuat jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam perbuatan keji, terseret ke lembah kemungkaran dan kesesatan (QS al-Ankabut [29]: 45 dan QS Maryam [19]: 59), dan bisa menyusahkan serta merugikan orang lain.

Kedua, meninggalkan sedekah. Itu berarti kita egois, individualis, dan enggan berbuat baik. Kepedulian sosial seperti sedekah adalah bukti keimanan. Orang yang suka bersedekah hatinya lapang dan dijauhkan dari penyakit, khususnya kekikiran, sedangkan para dermawan selalu menebar kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan surga.

Ketiga, meninggalkan zikrullah adalah awal kematian hati. Hatinya akan membatu sehingga tak bisa menerima nasihat dan ajaran agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan hati (QS Ar-Ra’d [13]: 28). Orang yang tenang hatinya akan berperilaku positif dan tak mau berbuat jahat.

Mukmin yang selalu shalat, senang bersedekah, dan memperbanyak zikrullah akan menjadi orang yang paling baik, memiliki hati yang hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila kita merasa rajin shalat, sedekah, dan zikir, tetapi hatinya mati, kemungkinan besar shalat, sedekah, dan zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa

IBRAHIM, BAPAK MONOTEISME

Nabi Ibrahim AS, selain dikenal sebagai bapak nabi-nabi, ia juga dikenal sebagai bapak monoteisme. Keagamaan Ibrahim dicapai tak melulu melalui iman, tetapi juga melalui penyelidikan ilmiah terhadap fenomena alam yang mengantarnya sampai kepada kesimpulan tauhid (QS al-An’am [6]: 79).

Berkali-kali Allah SWT menguji Ibrahim dengan cobaan yang berat. Hebatnya, ia selalu lulus dan mampu melewati berbagai ujian itu dengan sukses. Karena itu, ia layak dan pantas dinobatkan sebagai imam dan pemimpin umat. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikan dengan sebaik-baiknya.” (QS al-Baqarah [2]: 124).

Ada banyak tafsir tentang makna pada ayat di atas. Pakar tafsir Ibnu Katsir memahaminya sebagai syariat dari Allah berupa sejumlah perintah (al-awamir) dan sejumlah  larangan (al-nawahi). Selain bermakna syariat, kalimat itu, menurut al-Alusi, juga bermakna ujian dan cobaan. Al-Alusi mengungkapkan, ada tujuh macam cobaan yang dihadapi Ibrahim. Namun, ada yang menyebut 13 hingga 30 cobaan.

Dari semua ujian dan cobaan yang dihadapinya, ada empat ujian yang sungguh berat. Pertama, ia pernah dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud. Kedua, ia diminta melakukan khitan pada usia tua. Ketiga, ia tidak diberi keturunan sampai usia senja, tetapi ia tidak berhenti berdoa. “Ya, Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (QS al-Shaffat [37]: 100).

Keempat, setelah mendapat anak (Ismail), ia diminta menyembelihnya. Ujian yang mahaberat itu pun ditunaikan Ibrahim dengan penuh ketaatan. Ia memenuhi semua perintah Allah (QS al-Najm [53]: 37) dan membuktikan kebenaran mimpinya. “Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Shaffat [37]: 105).
  
Sebagai muwahid sejati dan bapak monoteisme, Ibrahim memberikan apa saja yang diminta oleh Allah, termasuk Ismail, “aset” paling berharga yang dimilikinya. Menurut Doktor Ali Syari’ati, Ismail adalah simbol dari sesuatu yang paling dicintai oleh manusia. Setiap orang tentu memiliki “Ismail”-nya dalam bentuk dan rupa yang berbeda-beda.

Tauhid pada hakikatnya mengandung makna ketundukan manusia secara total kepada Allah SWT. Hal ini dilakukan dengan menunjukkan cintanya hanya kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim adalah contoh par-excellent dalam soal ini. Itu sebabnya namanya disebut dan diabadikan oleh Allah dalam semua kitab suci dan terutama dalam kitab suci Alquran.

Nabi Muhammad SAW dan seluruh kaum beriman disuruh mengikuti agama (millah) Ibrahim. Dikatakan, hanya orang-orang “dungu” yang membenci dan menolak agama bapak monoteisme ini. “Dan, tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri.”(QS al-Baqarah [2]: 130). Wallahu a’lam.

KELUARGA TELADAN YANG DI CINTAI ALLAH

Dua ibadah utama yang terjadi pada setiap bulan Dzulhijah-ibadah haji (QS Ali Imran [3]: 97) dan Idul Adha yang disertai penyembelihan hewan kurban pada 10-13 Dzulhijah (hari-hari tasyrik)-merupakan bentuk ketundukan kepada ketentuan Allah SWT dan rasul-Nya serta pengingat terhadap kisah keluarga Nabi Ibrahim AS.

Beliau dengan istrinya, Siti Hajar, dan anaknya (Ismail)-di samping istri yang kedua Siti Sarah dan anaknya Ishaq-adalah contoh keluarga yang berhasil membangun kehidupan atas dasar keyakinan kepada Allah SWT. Mereka juga dapat membangun idealisme dan cita-cita yang sangat tinggi disertai dengan pengorbanan yang tanpa mengenal pamrih, kecuali hanya mengharap ridha Allah SWT.

Pilar-pilar yang dibangun oleh keluarga teladan ini diungkapkan oleh Allah SWT secara perinci pada QS ash-Shaffat [37]: 99-112. Pertama, memiliki visi dan misi yang jelas, yaitu saling menjaga dan saling memelihara dalam ketaatan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim sebagai sang ayah pergi berdakwah ke berbagai pelosok untuk menyebarkan risalah Allah SWT. Siti Hajar, sang istri, dengan ikhlas mendukung kegiatan ini sekaligus memberikan dorongan dan doa restunya agar perjalanan suaminya mendapatkan keberkahan Allah SWT.

Kedua, selalu berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar mendapatkan anak dan keturunan yang saleh dan salehah sebagai pewaris dan penerus perjuangan orang tuanya. Tentu, mereka diharapkan juga mampu mendirikan shalat dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, membangun keyakinan terhadap turunnya pertolongan Allah SWT yang dilandasi dengan kegigihan berusaha dan berikhtiar. Sebagai contoh, ketika mencari air untuk memenuhi kebutuhan anaknya yang masih kecil (Ismail), Siti Hajar berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Bukit Marwah. Dengan izin-Nya, akhirnya keluarlah mata air yang tidak pernah diduga sebelumnya, yaitu air zamzam.
 
Keempat, membudayakan diskusi dan musyawarah antara sesama anggota keluarga sehingga timbul pemahaman dan pengertian yang baik. Sebagai contoh, ketika bermimpi untuk menyembelih anaknya (yang diyakininya sebagai perintah Allah SWT), Nabi Ibrahim dalam implementasinya tetap berdialog dan berkomunikasi dengan anaknya. Lalu, keduanya melaksanakan ketentuan Allah SWT ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Kelima, membangun semangat berkorban untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan kecintaan kepada sesama manusia. Inilah beberapa pilar utama dalam membangun keluarga yang kuat yang telah dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim AS untuk dijadikan pelajaran dan suri teladan orang-orang yang beriman yang menginginkan keluarganya bahagia dan sejahtera atas dasar ketundukan dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Mumtahanah [60]: 4, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.” Wallahu a’lam.

MARI SINGKIRKAN SAMPAH KEHIDUPAN

Agama Islam sangat menekankan kebersihan, baik kebersihan fisik maupun batin. Cinta Allah, antara lain, dialamatkan kepada orang yang bersih dan menyucikan diri. (QS Al-Baqarah [2]: 222).  Setiap Muslim tentu sudah sangat maklum, hadis Nabi yang menyatakan, “Al-Thuhur-u syathr-u al-Iman.” (Kebersihan adalah separuh dari iman). (HR Muslim dari Abi Malik al-Anshari).

Untuk bisa hidup bersih dan sehat, kita harus membuang dan membersihkan apa yang dinamakan ‘sampah kehidupan’ (life garbage). Sampah kehidupan itu banyak sekali, baik dalam diri maupun lingkungan kita. Namun, ada empat yang terpenting.

Pertama, sampah berupa kolesterol atau lemak-lemak tak berguna dalam tubuh kita. Sampah ini timbul karena pola makan yang kurang baik, dan bisa berkembang menjadi toksin (racun) yang dapat mengganggu kesehatan kita. Sampah ini bisa dibersihkan, antara lain, melalui puasa sunah, puasa Senin-Kamis, atau puasa hari-hari terang (Ayyam al-Baydh).

Kedua, sampah pikiran, yaitu pikiran negatif (negative thinking) yang dapat mengganggu kesehatan dan kemajuan kita. Pikiran kumuh, pesimistis, dan pandangan atau kepercayaan yang cenderung melemahkan diri sendiri (limiting believe) tergolong sampah pikiran.

Sampah yang satu ini sangat berbahaya, karena tak ada sesuatu yang paling membelenggu manusia selain pikirannya sendiri. Sampah ini harus dibersihkan, antara lain, dengan cara membangun pikiran baru (mindset) yang positif dan optimistis (husn al-zhann), serta fokus pada kemajuan, bukan pada kemunduran.

Ketiga, sampah relasi sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia perlu berkomunikasi dengan orang lain. Namun, dalam berkomunikasi, manusia memerlukan keterampilan  tersendiri agar terhindar dari akibat buruk. Ingat, dalam komunikasi itu timbul saling memengaruhi. Emosi negatif bisa memancarkan emosi dan energi negatif pula melalui apa yang disebut ‘vibrasi emosi’.

Itu sebabnya, Islam menyuruh agar kita bergaul dan berteman dengan orang-orang baik (shuhbat al-shalihin). Bahkan, sufi terkemuka, Ibnu Athaillah al-Sakandari, dalam bukunya yang sangat kesohor, al-Hikam, melarang kita berteman dengan orang-orang yang tidak inspiratif. Katanya, “La tashhah man la yunhidhuka qauluh-u wa fi`luh-u.

Kempat, sampah berupa dosa-dosa kita. Dosa dan maksiat adalah sampah yang mengotori jiwa dan hati kita. Para sufi sudah sejak lama memandang dosa ibarat polusi atau awan tebal yang menutupi hati-nurani kita. Sampah ini harus dibersihkan dengan tobat, yaitu meninggalkan dosa-dosa, baik besar maupun kecil, dan kembali ke jalan Tuhan. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222). Wallahu a`lam.

HAJI & KEMISKINAN :

Menarik dicermati lontaran kritik yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Dengan keras dan lantang, Al-Ghazali mengkritik habis-habisan para haji, baik yang melakukannya untuk pertama kali (haji wajib) maupun yang berkehendak mengulanginya untuk kedua kali dan seterusnya (haji sunah).

Terhadap mereka yang berangkat haji untuk pertama kali, Al-Ghazali mengkritik bahwa di antara mereka itu banyak yang berangkat tanpa terlebih dulu membersihkan jiwa dan hatinya. Mereka banyak yang mengabaikan aspek-aspek ibadah haji yang berdimensi psikis maupun etis, sehingga ketika sampai di Tanah Suci mereka tidak mampu menjaga kesucian dirinya untuk tidak menghujat, mengolok-olok, dan berkata keji.

Sedangkan bagi mereka yang “ahlul haj” (berkali-kali naik haji), dengan menukil sebuah kisah spiritual bernuansa sufistik Al-Ghazali menyebut orang-orang yang lebih antusias menjalankan haji ulang daripada memberikan sedekah kepada para tetangganya yang menggelepar kelaparan dan hidup dalam kemiskinan itu sebagai orang yang teperdaya (ghurur) karena mengabaikan skala prioritas dalam beribadah.

Kritik yang dilontarkan oleh Al-Ghazali itu sungguh sangat relevan dan signifikan buat kondisi bangsa kita yang kini dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis multidimensi yang berkepanjangan. Hemat saya, untaian hikmah yang sering dibentangkan oleh kaum sufi itu sebenarnya merupakan reaktualisasi suatu ibadah yang telah lama berkarat, karena terbungkus lumpur kepicikan egoisme sendiri dan arogansi personal yang telah merasa paling Islam.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bila saja ada 10 ribu calon haji ulang bersepakat mendayagunakan dana haji ulangnya, sehingga terkumpul dana segar sekitar Rp 320 miliar (ONH tahun ini sekitar Rp 32 juta), lalu dana itu dimanfaatkan untuk mengentaskan rakyat miskin yang kini berjumlah 40 juta orang lebih, apakah pahalanya sama dengan melaksanakan ibadah haji? Mungkinkah hukum haji ulang itu bergeser dari sunah menjadi makruh, atau bahkan haram ?

Haji ulang: makruh

Secara umum, ada tiga kategori pengulangan pelaksanaan ibadah haji. Pertama, mengulang karena haji yang terdahulu (yang pertama) belum sah, lantaran ada beberapa syarat dan rukunnya yang mungkin tidak sempat (lupa) dijalankan. Kedua, mengulang karena haji yang terdahulu telah memenuhi syarat dan rukunnya secara sempurna, tapi si pelaksana merasa belum pas karena ibadahnya tidak dilakukan dengan khusyuk, misalnya. Ketiga, mengulang karena semata-mata untuk memperbanyak amalan sunah. Dua kategori yang disebut belakangan itulah yang menurut hemat saya relevan dengan kritik Al-Ghazali kepada orang-orang yang kemaruk melaksanakan ibadah haji.

Harus diakui, selama ini masyarakat menganggap ibadah haji itu berhukum wajib dan sunah bagi yang bermaksud mengulanginya. Para ulama menetapkan hukum wajib dan sunah tersebut karena mendasarkan pemikirannya pada Al-Quran yang dianggapnya qath’i (pasti), sebagaimana firman-Nya: “Allah mewajibkan atas manusia untuk menyengaja bait (pergi ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji) bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana” (QS.3:97). Sedangkan penetapan hukum sunah haji ulang didasarkan pada hadis yang bersifat zanny (belum pasti) yang diriwayatkan Imam Ahmad: “Barangsiapa ingin menambah atau mengulangi ibadah haji, itu hukumnya sunah.”

Meskipun demikian, ada seorang ahli fikih asal Irak, Ibrahim bin Yazid al-Nakha’i, yang hidup pada era pemerintahan Bani Umayyah, berpendapat lain. Ia pernah mengeluarkan fatwa hukum bahwa sedekah itu lebih baik daripada haji sunah. Artinya, mengulangi ibadah haji sesudah haji yang pertama itu hukumnya makruh. Lalu, apa yang dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum (istimbath al-ahkam) haji makruh tersebut?

Sebagaimana diketahui, dalam menetapkan hukum Islam, jika mujtahid memperoleh petunjuk dalam nash, operasionalisasi kaidah-kaidah kebahasaan menjadi perhatian utama bagi mereka, seperti hukum wajibnya haji yang ditunjuk oleh Al-Quran QS.3:97 di atas. Tetapi, hukum dasar wajib seperti tersurat dalam ayat tersebut bisa mengalami perubahan ketika dijumpai illat (alasan hukum) yang dapat mempengaruhi hukum dasar itu. Dari sini lalu muncul sebuah kaidah hukum, al-hukmu yaduru ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman. Artinya, ada atau tidaknya suatu hukum itu sangat bergantung pada sebab-sebab yang mempengaruhinya.

Berdasarkan kaidah tersebut, bisa saja ibadah haji yang pada asalnya wajib bagi umat Islam yang mampu itu berubah menjadi haram, misalnya. Dihukumi haram apabila pelaksanaan haji itu justru akan menghancurkan sisi kemaslahatan sebagai landasan pokok pembentukan sebuah rumusan hukum Islam. Contohnya, mengadakan biaya naik haji dengan cara berutang, sementara potensi untuk membayar utang itu tidak ada. Demikian juga, bila biaya haji itu merupakan komponen fundamental bagi kelangsungan hidup dan kehidupan keluarga, sementara tidak ada sumber lain yang dapat dijadikan sarana meraih kebutuhan primer.

Atas dasar pertimbangan etika dan kemaslahatan serta adanya perubahan ‘illat berupa kebutuhan yang bersifat urgen dan mendesak pada sementara bangsa kita yang kini hidup dalam kemiskinan, hukum haji ulang yang pada awalnya sunah, hemat saya, bisa bergeser menjadi makruh, dalam arti lebih baik ditangguhkan atau bahkan ditinggalkan. Tetapi harus dipahami, yang menyebabkan makruh itu adalah sikap meninggalkan kemaslahatan yang qath’i (pasti) dengan mendahulukan ibadah sunah yang penetapan hukumnya berdasarkan dalil zany (belum pasti). Jadi bukan hajinya itu sendiri.

Akhirnya, saya mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang telah meraih gelar haji/hajah dan berkeinginan melaksanakannya lagi untuk kedua kali dan seterusnya, urungkan niat itu. Ikhlaskan dan serahkan saja dana haji ulang itu kepada mereka yang kini tengah tertindas baik secara ekonomis maupun politis untuk karya-karya yang produktif dan monumental.

Kalau kita berhaji tiga kali, misalnya, kemudian meninggal, tidak ada lagi nilai tambah (added value) bagi ibadah kita. Berbeda bila kita cukup berhaji sekali saja, kemudian dana yang untuk berhaji dua kali itu, misalnya, kita gunakan untuk mengentaskan rakyat miskin atau menciptakan lapangan kerja baru, dan orang-orang yang ada di dalamnya menjadi kreatif dan produktif, tentu kita akan tetap memperoleh pahala yang berkesinambungan, meski kita telah terbujur kaku di liang kubur.

Kearifan sosial ritual qurban 

DARI akar kata Bahasa Arab qaruba (dekat), kurban masih tak kehilangan makna; dekat. Yakni dekat secara sempurna, baik horizontal maupun vertikal. Secara vertikal, makna kedekatan dalam qurban memerintahkan umat Islam untuk menambah intensitas komunikasinya dengan Tuhan. Dilihat secara filosofis-historis, pesan horizontal dalam ritual qurban mengajarkan kita bahwa dalam setiap ungkapan cinta, harus diikuti dengan pengorbanan.

Nabi Ibrahim AS secara simbolik telah dijadikan referensi sepanjang zaman akan makna qurban. Ibrahim diuji karena kecintaannya kepada anaknya yang besar yang berlebihan, ia seakan melalaikan Tuhan. Dalam wahyu, Ibrahim dapat perintah untuk menyembelih putra yang paling dicintai, Ismail. Ibrahim berhasil menunaikan perintah akan menyembelih putranya itu. Tapi Ismail kemudian tak jadi tewas terbunuh karena diganti seekor kambing jantan.

Ismail tak jadi korban ”wahyu” dari ayahnya karena Ismail hanya sarana menguji keimanan Ibrahim. Intinya, yang dituju dalam momentum qurban adalah bagaimana menunjukkan ketauhidan kita secara teologis dan sosial; vertikal dan horizontal.

Secara tegas dinyatakan dalam Alquran (al-Hajj: 37) bahwa Allah tidak membutuhkan daging-daging binatang qurban, melainkan ketaqwaan. Disinilah kemudian taqwa dalam spirit qurban tebaca dan ter-eja secara filosofis dalam upaya kita menyembelih nafsu-nasfsu kebinatangan, sebagaimana binatang disembelih dalam ritual paling tua di dunia itu.

Kontekstualisasi taqwa dalam qurban terletak pada sejauh mana umat Islam bisa mengajak kepada saudaranya yang kurang untuk merasakan kenikmataan daging binatang ternak yang mungkin saja belum tentu bisa dirasakannya setiap saat kecuali dalam momen-momen bahagia saja. Berbeda dengan puasa yang meng – ajak setiap kita merasakan dahaga kelaparan saudara-saudara kita yang kurang mampu.

Pada saat yang sama, golongan umat Islam yang mampu menunaikan haji juga diajak untuk menghayati spiritualitas qurban kala ia melaksanakan tahapan lempar jumrah aqabah.

Pesan melempar jumrah tak berhenti pada formalitas ritual haji belaka, bahwa di sana para haji diajak untuk melempar musuh-musuh mereka (setan) agar tak terlalu membelenggu upaya diri menuju kecerdasan spiritual dan sosial.

Kecerdasan sosial dan spiritual sungguh kita harapkan muncul sebagai kesadaran massal di tengah kondisi ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan yang ”tak terlerai” dari luapan masalah.

Apalagi beberapa waktu lalu banyak saudara-saudara kita di Wasior, Mentawai, dan Merapi mendapatkan musibah bencana tak terperi. Tanpa kesadaran dan kecerdasan spiritual dan sosial, manusia akan jadi angkuh dan mementingkan diri sendiri.

Ritual qurban hadir untuk memberikan semangat yang mungkin saja akan luntur dalam lanskap kehidupan kita yang egois, individualis dan serakah. Baik yang ada di tanah air maupun yang sedang menjalankan ibadah haji. Kita diajak untuk memberi sesuatu yang kita punya dan kita cintai kepada orang lain yang membutuhkan.

Haji dan spirit qurban
Betul juga kata Ali Syari’ati dalam bukunya Hajj, bahwa dalam ibadah haji ada dimensi sosiologis- humanis, yang salah satu bentuknya adalah bersamaannya waktu haji dengan qurban. Haji dan qurban saling berhubungan dalam spirit, dan, saling menyempurnakan. Buktinya, haji yang kurang sempurna rukunnya, hanya bisa ditebus dengan hewan sembelihan qurban.

Dimensi sosio-humniora tak bisa dilepaskan dalam qurban. Haji yang terlepas dari spirittualitas qurban akan menyisakan tragedi dan ironi sosial. Ada sebuah cerita menarik dalam buku klasik Durratun Nashihin yang patut dijadikan cermin.

Seorang kaya raya bernama Ibnul Mubarok melakukan haji sunnah, yakni haji yang dilakukan bukan pertama kali. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan seorang anak perempuan kurus mengambil seekor burung yang sudah mati (bangkai). Ibnul Mubarok bertanya ihwal kejadikan aneh itu. Dia bertanya mengapa mengambil burung yang sudah mati, apa tujuannya.

Anak perempuan itu menjawab kalau dia sudah tiga hari tidak makan dan adik-adiknya di rumah kelaparan. Burung bangkai itu akan ia jadikan santapan gratis karena tak mampu membeli kebutuhan makanan.

Tersentuh, Ibnul Mubarok membatalkan hajinya dan memberikan ongkos naik hajinya untuk keluarga anak malang itu. Itulah yang namanya qurban dalam pengertian spirit. Haji yang sifatnya formal dibatalkan untuk melakukan korban amal kepada orang-orang yang tidak mampu, seperti tamsil anak perempuan itu.

Oleh karena itulah, haji yang sekadar untuk menaikkan gengsi sosial dan status spiritual tidak akan menjadikan mabrur (baik) dan mabruk (berkah) kalau spirit kepedualian sosial, sebagaimana dalam qurban, tak menyatu dalam penghayatan filosofis kita.

Dalam masyarakat kita, terjadi salah kaprah berpikir, bahwa kalau orang sudah berqurban dianggap sudah memberikan kontribusi besar kepada agama dan masyarakat. Begitu juga, kalau orang sudah haji, rukun Islam dianggap sudah sempurna dan dosa-dosanya tertebus sewaktu masih di Makkah dan Madinah.

Qurban hanya sarana menjalin komunikasi secara vertikal dan horizontal saja. Karena Tuhan tidak membutuhkan daging, status, dan pahala kita. Allah tidak membutuhkan Ibrahim dan Ismail. Kita yang membutuhkan cinta kepedulian sesama.

Dengan demikian, ada harapan kita akan semakin dekat dengan Allah dan dengan sesama. Tak kehilangan makna ”qaruba” itu. f M Abdullah Badri, peneliti di Idea Studies Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang

HALAL

Kearifan sosial ritual qurban DARI akar kata Bahasa Arab qaruba (dekat), kurban masih tak kehilangan makna; dekat. Yakni dekat secara sempurna, baik horizontal maupun vertikal. Secara vertikal, makna kedekatan dalam qurban memerintahkan umat Islam untuk menambah intensitas komunikasinya dengan Tuhan. Dilihat secara filosofis-historis, pesan horizontal dalam ritual qurban mengajarkan kita bahwa dalam setiap ungkapan cinta, harus diikuti dengan pengorbanan. Nabi Ibrahim AS secara simbolik telah dijadikan referensi sepanjang zaman akan makna qurban. Ibrahim diuji karena kecintaannya kepada anaknya yang besar yang berlebihan, ia seakan melalaikan Tuhan. Dalam wahyu, Ibrahim dapat perintah untuk menyembelih putra yang paling dicintai, Ismail. Ibrahim berhasil menunaikan perintah akan menyembelih putranya itu. Tapi Ismail kemudian tak jadi tewas terbunuh karena diganti seekor kambing jantan. Ismail tak jadi korban ”wahyu” dari ayahnya karena Ismail hanya sarana menguji keimanan Ibrahim. Intinya, yang dituju dalam momentum qurban adalah bagaimana menunjukkan ketauhidan kita secara teologis dan sosial; vertikal dan horizontal. Secara tegas dinyatakan dalam Alquran (al-Hajj: 37) bahwa Allah tidak membutuhkan daging-daging binatang qurban, melainkan ketaqwaan. Disinilah kemudian taqwa dalam spirit qurban tebaca dan ter-eja secara filosofis dalam upaya kita menyembelih nafsu-nasfsu kebinatangan, sebagaimana binatang disembelih dalam ritual paling tua di dunia itu. Kontekstualisasi taqwa dalam qurban terletak pada sejauh mana umat Islam bisa mengajak kepada saudaranya yang kurang untuk merasakan kenikmataan daging binatang ternak yang mungkin saja belum tentu bisa dirasakannya setiap saat kecuali dalam momen-momen bahagia saja. Berbeda dengan puasa yang meng – ajak setiap kita merasakan dahaga kelaparan saudara-saudara kita yang kurang mampu. Pada saat yang sama, golongan umat Islam yang mampu menunaikan haji juga diajak untuk menghayati spiritualitas qurban kala ia melaksanakan tahapan lempar jumrah aqabah. Pesan melempar jumrah tak berhenti pada formalitas ritual haji belaka, bahwa di sana para haji diajak untuk melempar musuh-musuh mereka (setan) agar tak terlalu membelenggu upaya diri menuju kecerdasan spiritual dan sosial. Kecerdasan sosial dan spiritual sungguh kita harapkan muncul sebagai kesadaran massal di tengah kondisi ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan yang ”tak terlerai” dari luapan masalah. Apalagi beberapa waktu lalu banyak saudara-saudara kita di Wasior, Mentawai, dan Merapi mendapatkan musibah bencana tak terperi. Tanpa kesadaran dan kecerdasan spiritual dan sosial, manusia akan jadi angkuh dan mementingkan diri sendiri. Ritual qurban hadir untuk memberikan semangat yang mungkin saja akan luntur dalam lanskap kehidupan kita yang egois, individualis dan serakah. Baik yang ada di tanah air maupun yang sedang menjalankan ibadah haji. Kita diajak untuk memberi sesuatu yang kita punya dan kita cintai kepada orang lain yang membutuhkan. Haji dan spirit qurban Betul juga kata Ali Syari’ati dalam bukunya Hajj, bahwa dalam ibadah haji ada dimensi sosiologis- humanis, yang salah satu bentuknya adalah bersamaannya waktu haji dengan qurban. Haji dan qurban saling berhubungan dalam spirit, dan, saling menyempurnakan. Buktinya, haji yang kurang sempurna rukunnya, hanya bisa ditebus dengan hewan sembelihan qurban. Dimensi sosio-humniora tak bisa dilepaskan dalam qurban. Haji yang terlepas dari spirittualitas qurban akan menyisakan tragedi dan ironi sosial. Ada sebuah cerita menarik dalam buku klasik Durratun Nashihin yang patut dijadikan cermin. Seorang kaya raya bernama Ibnul Mubarok melakukan haji sunnah, yakni haji yang dilakukan bukan pertama kali. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan seorang anak perempuan kurus mengambil seekor burung yang sudah mati (bangkai). Ibnul Mubarok bertanya ihwal kejadikan aneh itu. Dia bertanya mengapa mengambil burung yang sudah mati, apa tujuannya. Anak perempuan itu menjawab kalau dia sudah tiga hari tidak makan dan adik-adiknya di rumah kelaparan. Burung bangkai itu akan ia jadikan santapan gratis karena tak mampu membeli kebutuhan makanan. Tersentuh, Ibnul Mubarok membatalkan hajinya dan memberikan ongkos naik hajinya untuk keluarga anak malang itu. Itulah yang namanya qurban dalam pengertian spirit. Haji yang sifatnya formal dibatalkan untuk melakukan korban amal kepada orang-orang yang tidak mampu, seperti tamsil anak perempuan itu. Oleh karena itulah, haji yang sekadar untuk menaikkan gengsi sosial dan status spiritual tidak akan menjadikan mabrur (baik) dan mabruk (berkah) kalau spirit kepedualian sosial, sebagaimana dalam qurban, tak menyatu dalam penghayatan filosofis kita. Dalam masyarakat kita, terjadi salah kaprah berpikir, bahwa kalau orang sudah berqurban dianggap sudah memberikan kontribusi besar kepada agama dan masyarakat. Begitu juga, kalau orang sudah haji, rukun Islam dianggap sudah sempurna dan dosa-dosanya tertebus sewaktu masih di Makkah dan Madinah. Qurban hanya sarana menjalin komunikasi secara vertikal dan horizontal saja. Karena Tuhan tidak membutuhkan daging, status, dan pahala kita. Allah tidak membutuhkan Ibrahim dan Ismail. Kita yang membutuhkan cinta kepedulian sesama. Dengan demikian, ada harapan kita akan semakin dekat dengan Allah dan dengan sesama. Tak kehilangan makna ”qaruba” itu. f M Abdullah Badri, peneliti di Idea Studies Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang

Bila kita mendengar kata halal, maka konotasi utama tertuju pada makanan atau minuman halal yang intinya tidak mengandung babi atau alkohol. Pandangan ini memang tidak sepenuhnya salah, namun kurang komprehensif. Hal ini karena unsur pembentuk kehalalan suatu barang atau harta ternyata tidak terbatas kepada fisik (ain al dzat), tetapi juga sangat terkait dengan proses yang menyertainya, baik di awal maupun di akhir.

Dalam suatu hadis Rasulullah SAW bersabda, “ Tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat kecuali ditanya akan empat hal: tentang umurnya bagaimana dihabiskan, tentang masa mudanya bagaimana dilalui, tentang ilmunya bagaimana dimanfaatkan, serta tentang hartanya dari mana didapatkan dan bagaimana dibelanjakan”. Sabda Rasulullah ini mengisyarakatkan bahwa pertanggungjawaban harta akan diminta dari mulai cara memperolehnya apakah bebas dari korupsi, kolusi, manipulasi, dan gambling hingga segenap transaksi yang terkait dengan pemanfaatannya. Apakah masih berlumuran riba, maisir, gharar, atau tabdzir.

Sebagai perenungan ada baiknya kita memperhatikan pola kehidupan kita sehari-hari; kita bandingkan antara lamanya ibadah dengan lamanya mencari harta, serta bertanya ulang tentang kualitas kehalalan harta kita.

Dari sekian banyak ibadah yang kita lakukan, shalat menempati posisi yang paling dominan. Ibadah lainnya seperti haji hanya dilakukan sekali seumur hidup, itupun bagi yang sudah mampu secara finansial. Puasa juga setahun sekali pada bulan suci Ramadhan. Demikian juga halnya dengan zakat, kewajibannya setahun sekali bagi yang sudah mencapai hishab.

Dalam posisinya yang sangat penting ini, ternyata shalat bila dilakukan tidak lebih dari 10 menit, bahkan bila terburu-buru bisa diringkas menjadi lima menit atau lebih cepat lagi. Walhasil dalam satu hari satu malam, shalat tidak lebih dari 50 menit. Sementara dalam mencari nafkah seseorang akan menghabiskan antara 12 hingga 15 jam sehari. Di kota besar seperti Jakarta, tak jarang seorang pekerja sudah harus meninggalkan rumahnya tak lama setelah shalat Subuh dan kembali sekitar jam 18.00 atau bahkan jam 20.00 malam. Ini pun dengan asumsi jalanan lancar dan tidak ada pekerjaan lembur.

Perbandingan di atas menunjukkan betapa pentingnya kita harus peduli dengan yang 15 jam tersebut. Karena selama 15 jam-lah kita mencari rezeki yang dengannya kita menafkahi anak istri. Sebagai pencari nafkah keluarga, demikian juga istri bila tampil membantunya, akan ditanya tentang kehalalan rezeki, bentuk zatnya, cara memperolehnya, cara membelanjakannya hingga cara berinvestasi dengannya…..

PESAN ILLAHI

Tuhan menciptakan segala sesuatu terukur, teliti, dan selalu ada maknanya. Dengarlah ungkapan Isaac Newton: God created everything by number, weight, dan measure. Dengar juga Pytha goras: Number rules the universe. Number is the within of all things.
Apa yang mereka rasakan ? mereka tentu tidak membaca Al Qur’an. Tapi yang mereka rasakan benar-benar universal, yang menunjukkan bahwa Tuhan mengawasi mereka. Sehingga mereka juga menangkap pesan dari Tuhan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal itu datang dari-Nya.

Kembali, semua ini membuat kita merasakan dan menyaktsikan bahwa sesungguhnya yang ada hanya Dia, Tuhan yang 1. Yang lainnya tidak ada (0). Semuanya bermula dari Dia yang 1. Bila kita cermati angka, semua bermula dari angka 1. Selain angka 1 adalah tidak ada (0). Sebagai bukti, perhatikanlah angka 2, 3, 4,….bukankah itu berasal dari yang 1 ? Yaitu 1+1, 1+1+1, 1+1+1+1—–

Kemudian, bila kita perhatikan bagaimana manusia-manusia di bumi menuliskan angka-angka dalam bentuk symbol. Pada saat mereka menuliskan angka 1, mereka menulisa dalam bentuk yang sama, dengan menggerakkan jarinya dari atas ke bawah. Dalam bahasa tubuh, angka 1 ditunjukkan dengan mengacungkan jari telunjuk. Hal ini bersifat universal, yang berarti berlaku semesta untuk siapa pun dan di mana pun. Benarlah bahwa Dia Yang 1 adalah Maha Meliputi. Sedangkan dari cara penulisan, angka 1 dituliskan dari atas ke bawah. Menunjukkan pesan yang seakan datang dari ‘Arasy ke bumi tegak dan kokoh sebagai suatu ketetapan dari-Nya yang tidak tergoyahkan, bersifak otentik. Namun ada yang kelihatannya berbeda, yaitu cara penulisan angka 1 pada aksara Cina dan Jepang, dimulai dari kiri ke kanan, tidak dari atas ke bawah. Tetapi sebenarnya sama, karena pembacaan kedua aksara dari atas ke bawah. Dari kenyataan ini, terlihatlah bahwa ayat-ayat-Nya bersifat universal dan otentik. Baik ayat yang terdapat dalam Al Qur’an maupun yang bertebaran di alam semesta.

Perhatikan juga cara penulisan angka 0, sungguh mencengangkan. Ternyata jejak goresan alat-tulis, dimulai dari posisi atas (A’rasy) kemudian berputar kebalikan arah jarum jam (tawaf) dan akhirnya kembali ke posisi awal membentuk angka 0. Seperti bentuk lintasan orbit electron maupun lintasn benda-benda langit di alam semesta. Fenomena ini menggambarkan manusia sebagai abdi Tuhan yang sejatinya hidup di dunia bertawaf, berdzikir, dan tunduk pada-Nya. Berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Semakin nyata bahwa manusia hakikinya adalah 0, disadari maupun tidak.

Kita itu tidak ada apa-apanya dan akan sia-sia, seandainya tidak mengawali hidup dengan kesaksian bahwa Tuhan itu Esa. Perhatikanlah, bila penulisan bilangan angka 0 dan 1, dengan urutan 0 dahulu, baru 1 (yaitu 01). Ternyata, angka 0 di sini tidak perlu ditulis, boleh dihapus karena tidak berarti, tidak bernilai. Kita hanya perlu menuliskan symbol angka 1 saja. Tetapi bila penulisan bilangan angka 0 dan 1, dengan urutan 1 dahulu baru 0, (yaitu 10), ternyata angka 0 di belakang 1 ini menjadi berarti dan harus dituliskan karena dia bernilai. Uraian ini menjadikan kita mengerti, mengapa hidup manusia itu baru bernilai, setelah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Inilah pesan digital dari Tuhan kepada kita sebagai syarat layak hidup di dunia. Dan semua ini telah disiapkan Tuhan sebagai pegangan hidup. Seperti dikisahkan dalam Al Qur’an bahwa setiap anak Adam sebelum lahir ke dunia, ruhnya pernah menerima pertanyaan “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan mereka menjawa “Betul, kami bersaksi.”

Jadi, sangat logis bila kita harus selalu bersaksi bahwa Allah itu Tuhan Yang Esa, bersaksi kapan pun dan dimanapun kedudukan kita. Albert Einstein berkata “Science without religion is lame; religion without science is blind.” Seorang Einstein tidak mengenal Al Qur’an, tapi mampu merasakan bahwa kehidupan di dunia ini ada yang merencanakan, mengatur dan memelihara. Kemungkinan yang pasti, hal ini disebabkan oleh adanya keteraturan, keterukuran peristiwa-peristiwa alam yang disebut hokum-hukum alam yang ia amati. Dalam hal inilah, istilah Spiritual Engineering digunakan. Yaitu, suatu kajian yang berisikan hal-hal seputar religion dan applied science yang dapat juga disebut religineering….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: