Tahukah Anda?

Suburnya Aliran Sesat di Indonesia

Jumat, 25/03/2011 10:19 WIB | email | print

Lia Eden, salah satu pemimpin aliran sesatLia Eden, salah satu pemimpin aliran sesat

 

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Kampus UI (Universitas Indonesia) di Depok Jawa Barat, menggelar seminar di lingkungan FISIP UI (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) berjudul “Indonesiaku Subur Aliran Sesat”. Seminar itu dalam rangka pengajian bulanan, berlangsung Senin 26 November 2007, menghadirkan nara sumber: M Amin Djamaluddin ketua LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) yang juga anggota Komisi Pengkajian dan Pengembangan di MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Hartono Ahmad Jaiz penulis buku-buku Islam di antaranya “Aliran dan Paham Sesat di Indonesia”.

Seminar ini berkaitan dengan maraknya aliran sesat di Indonesia, bahkan ada nabi palsu bernama Ahmad Moshaddeq dari Betawi (Jakarta) yang mengaku dirinya nabi dan mengganti Syahadat Rasul menjadi “wa asyhadu anna al-Masih al-maw’ud rasulullah”, dan aku bersaksi bahwa al-Masih yang dijanjikan adalah rasul Allah. Pengikut nabi palsu itu diklaim sebanyak 41.000 orang di berbagai kota, terutama mahasiswa dan anak-anak muda. Padahal aliran itu baru mulai sejak 1999, dan mengaku nabi itu baru sejak 2006, secara sembunyi-sembunyi, kemudian pertengahan tahun 2007 secara terang-terangan.

Nabi palsu ini tidak mewajibkan shalat 5 waktu, hanya menyuruh shalat malam saja. Alasannya karena masih periode Makkah, jadi belum wajib shalat 5 waktu. Keruan saja orang yang tadinya ogah-ogahan shalat merasa mendapatkan tempat, bagai pucuk dicinta ulam tiba. Maka tak mengherankan, ketika Sang Nabi Palsu itu menyatakan taubat 9 November 2007, justru sebagian pengikutnya menyatakan tetap tidak mau bertaubat. Dan lebih aneh lagi para pendukung (bukan pengikut) nabi palsu itu yang biasanya ditengarai sebagai orang-orang dari kelompok liberal masih saja mendukung nabi palsu, untuk meneruskan “perjuangannya” sebagai nabi palsu walau Sang Nabi Palsu telah bertaubat.

Keanehan itu sampai kadang tak masuk akal. Misalnya, Abdul Moqsith Ghazali, dari UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta yang dikenal sebagai tokoh JIL (Jaraingan Islam Liberal) ketika berdialog dengan Ketua Komisi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) Dr Anwar Ibrahim di Metro TV 29 November 2007 malam, Moqsith bilang mengakui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam nabi terakhir. Tetapi Moqsith menolak bila Ahmad Moshaddeq yang mengaku sebagai nabi baru lagi itu difatwakan oleh MUI sebagai sesat. Dan Moqsith menolak pula ketika hari itu Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta mengeluarkan keputusan pelarangan terhadap Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dipimpin oleh Ahmad Moshaddeq untuk wilayah DKI Jakarta. Sikap Moqsith Ghazali ini sangat tak masuk akal yang waras. Kecuali kalau memang dia tidak percaya bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam nabi terakhir; maka penolakannya terhadap Fatwa MUI dan keputusan pelarangan oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta itu baru masuk akal, karena untuk membela keyakinan batilnya yang jelas-jelas melawan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah menegaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam penutup para nabi (QS. Al-Ahzab [33] : 40), tidak ada sama sekali nabi sesudahnya.

Kembali kepada masalah diadakannya seminar tentang suburnya aliran sesat itu, karena UI termasuk menjadi sasaran penyebaran aliran sesat, dan sudah ada korban-korbannya. Pencari korban pun ada yang tertangkap oleh Satpam (satuan pengamanan) beberapa hari menjelang seminar ini, dan ternyata itu dari kelompok NII (Negara Islam Indonesia) yang di antara doktrinnya adalah meniadakan kewajiban shalat 5 waktu karena dianggap masih periode Makkah, belum periode Madinah, kata M Amin Djamaluddin yang menunjukkan bukti-bukti tercantumnya beberapa nama mahasiswa UI lengkap dengan fakultas dan jurusannya yang tercatat dalam daftar anggota kelompok aliran sesat NII.

Yang menjadi pertanyaan utama dalam seminar ini, kenapa Indonesia subur sekali aliran sesatnya. Nara sumber menuturkan, ada beberapa hal yang menjadikan kondusifnya kemunculan aliran-aliran sesat dan kondusifnya untuk berkembang di Indonesia.

Kondusif untuk Aliran Sesat

Latar belakang kondusifnya keadaan untuk tumbuh suburnya aliran sesat itu, mari kita anailsis sejenak, kita kembangkan dari apa yang telah dibicarakan dalam seminar di UI itu.

Di antara kondusifnya keadaan ini bagi aliran sesat, terutama adalah karena sikap para pemimpin sudah diketahui secara umum bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak konsisten, tidak istiqomah, atau bahasa kasarnya plintat-plintut. Mari kita ambil contoh:

1. Para pemimpin di pemerintahan tampak tidak konsisten dalam menangani aliran sesat. Kenyataannya, aliran sesat Islam Jama’ah telah dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971, dan disebut, Islam Jama’ah dan dengan nama apapun yang serupa, dilarang di seluruh wilayah Indonesia. Namun kenyataannya, menurut penelitian Badan Litbang (Penelitian dan Pengembangan) Departemen Agama, bahwa Islam Jama’ah itu kemudian berganti nama menjadi Lemkari, kemudian ganti nama lagi menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), namun justru berkembang dan dibiarkan saja oleh pemerintah. (Lihat Buku Bahaya Islam Jama’ah, Lemkari, LDII, terbitan LPPI Jaklarta). Pelarangan Islam Jama’ah dengan nama apapun dari Jaksa Agung tahun 1971: Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/beradjaran serupa. Menetapkan:

  • Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Peantren Nasional ( JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia.
  • Kedua: Melarang semua adjaran aliran- aliran tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama. Ketiga: Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan: Djakarta pada tanggal: 29 Oktober 1971, Djaksa Agung R.I. tjap. Ttd (Soegih Arto).

2. Dengan dibiarkannya aliran sesat yang sudah dilarang itu (ketika berganti nama dan kemudian berganti nama lagi ternyata tidak ada larangannya, dibiarkan saja), maka aliran-aliran sesat yang lainnya pun tenang-tenang saja, dan bahkan kemudian muncul di mana-mana aliran sesat yang baru-baru. Jadi yang lama makin berkembang atau bertahan, sedang yang baru pun bermunculan.

Dalam tempo singkat, dari tahun 2001 hingga 2007 telah tercatat ada 250 aliran sesat, dan yang 50 muncul di Jawa Barat, menurut KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum NU (Nahdlatul Ulama) (info dari Acara Mata Rantai di ANTV pada pekan awal November 2007, pukul 23.00 WIB, seperti dikutip Majalah Qiblati, edisi 03 tahun III, Desember 2007/ Dzulqa’dah 1428H halaman 11).

3. Pembiaran itu bukan hanya terhadap aliran sesat yang sudah pernah dilarang. Aliran sesat yang sudah difatwakan sesatnya oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) bahkan fatwanya sudah sampai dua kali, seperti Ahmadiyah (difatwakan sesat menyesatkan oleh MUI sampai dua kali yaitu tahun 1980 dan tahun 2005), namun pihak pemerintah masih diam saja. Tidak ada larangan secara nasional, walau kasus bentrokan antara umat Islam dengan orang Ahmadiyah sudah terjadi berkali-kali dan di mana-mana. Sikap pemerintah yang diam saja seperti ini mengakibatkan aneka keresahan bagi umat Islam, tetapi sebaliknya, merupakan angin baik bagi aliran-aliran sesat ataupun orang-orang yang ingin memunculkan aliran sesat.

Lambannya pemerintah dalam menangani aliran sesat itu, berakibat buruk lagi ketika justru berbalik mempersoalkan dampak. Misalnya, ketika sejumlah umat Islam mempersoalkan tempat-tempat ibadah orang Ahmadiyah di Kuningan Jawa Barat yang sudah disegel Pemda setempat kemudian ternyata tetap dipakai oleh orang Ahmadiyah, maka umat Islam beraksi, diantaranya mengakibatkan sebagian kaca bangunan dan sebagainya rusak. Bentrokan itu terjadi Selasa (18/12 2007) antara seribuan massa Gabungan Umat Islam Indonesia (GUII) dengan warga Ahmadiyah di Desa Manis Lor, Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat. Kampung Manis Lor memang merupakan basis pengikut aliran Ahmadiyah di kawasan Kuningan Jawa Barat. Jumlah mereka sampai ribuan orang. (Lihat Sabili, No 13, Th XV, 3 Muharram 1429H/ 10 Januari 2008M, halaman 22). Buru-buru orang-orang yang tak bertanggung jawab secara agama malah mempersoalkan keras tentang tindakan umat Islam yang hanya merupakan dampak kecil dari semangat mempertahankan Islam yang sudah diacak-acak oleh Ahmadiyah dengan nabi palsu mereka.

Mestinya hukuman bagi pengikut nabi palsu itu adalah diserang, bila disuruh taubat tidak mau, maka harus dibunuh. Itu jelas, dengan bukti Khalifah Abu Bakar Shiddiq mengerahkan 10.000 Muslimin untuk menyerang nabi palsu Musailimah Al-Kadzdzab dan pengikutnya. Hingga 10.000 pengikut nabi palsu itu mati dibunuh dalam keadaan murtad (dari jumlah 40 000 pengikut nabi palsu).

Namun di sini (Indonesia), justru yang hanya merusak kaca dan hanya sebagai akibat mempertahankan Islam dari perusakan yang jelas dilakukan Ahmadiyah, malah yang bereaksi itu yang dipermasalahkan. Gus Dur dengan anak buahnya pun mengerahkan pembelaan terhadap Ahmadiyah pengacak-acak Islam itu. Ini aneh. Dia dikenal sebagai tokoh Ormas Islam namun lebih rela mengerahkan wadyabala untuk menegakkan kekafiran dan melawan Islam.

Kalau masalah ini terus menerus dibiarkan, dan bahkan yang murtad itu yang dibela, maka benarlah apa yang telah diucapkan oleh orang Aceh saat awal merdeka, bahwa “pergi kafir datang kafir”, yaitu Belanda yang kafir telah pergi, namun orang yang datang pun ternyata kafir juga. (Ungkapan orang Aceh itu penulis dapati dari Dr Daud Ali guru besar UI —Universitas Indonesia— dalam satu kesempatan kuliah masa lalu waktu beliau masih hidup). Itu artinya, membiarkan aliran sesat yang sudah merusak Islam ini ibarat memelihara api di dalam sekam, kapan-kapan akan membakar, dan yang dibakar adalah Islam atau umat Islam. Maka MUI (Majelis Ulama Indonesia) pun bertandang ke Kejaksaan Agung, Jum’at (28/12 2007), dengan membawa fatwa tentang sesatnya Ahmadiyah dan bukti-buktinya, bahkan bukti secara internasional.

Sementara itu pihak Kejaksaan Agung berjanji akan menentukan sikap tentang status Ahmadiyah pada Januari 2008, setelah sebelumnya Al-Qiyadah Al-Islamiyah pimpinan Nabi Palsu Ahmad Moshaddeq dilarang secara nasional di seluruh Indonesia oleh Pakem (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) Kejaksaan Agung 11 November 2007.Pelarangan itu menyusul keputusan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan DIY (Yogyakarta) yang sebelumnya juga telah mengeluarkan pelarangan. Al-Qiyadah resmi dinyatakan sesat karena mengaku Islam tapi tidak mengakui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul terakhir. (Republika, Ahad 30 Desember 2007, halaman B12/ B1).

Pelarangan itu di antaranya setelah keluarnya Fatwa MUI 3 Oktober 2007 tentang sesatnya Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dipimpin Ahmad Moshaddeq yang mengaku dirinya nabi. Dalam jangka sebulan setelah keluarnya fatwa MUI, ternyata sudah ada larangan-larangan secara local maupun kemudian secara nasional terhadap Al-Qiyadah. Ini membuktikan, sebenarnya penguasa itu bisa dan mampu melarang aliran sesat yang sudah difatwakan oleh MUI.

Namun anehnya, sejumlah aliran yang telah difatwakan sesat oleh MUI, bahkan fatwanya itu bukan hanya oleh MUI Pusat secara dalam acara Munasnya atau bahkan Musyawarah Ulama Nasional, atau bahkan seperti Ahmadiyah itu difatwakan sesatnya oleh MUI sudah dua kali, tahun 1980 dan 2005, namun pihak pemerintah ataupun penguasa masih mendenges saja dalam arti belum juga mengeluarkan larangan. Bahkan ada yang lebih ironis lagi, aliran sesat yang sudah dilarang yaitu Islam Jama’ah kemudian dipelihara dan dipersilakan ganti-ganti baju atau ganti nama. Maka keluar pula rekomendasi MUI. MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan Ahmadiyah agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah. MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah). Jadi ada tiga sikap yang bisa dilihat:

  1. Mengadakan larangan aliran sesat secara nasional, segera setelah ada fatwa MUI.
  2. Aliran sesat dibiarkan saja dan belum ada tanda-tanda dilarang, walau sudah difatwakan sesatnya oleh MUI sampai dua kali sekalipun; bahkan sudah ada bentrokan massa di mana-mana.
  3. Diadakan pelarangan secara nasional dan bahkan dengan nama apapun yang sifat ajarannnya sama, tetap dilarang; namun kenyataannya justru kemudian dirangkul, dipelihara, diganti-ganti namanya. Walaupun terjadi bentrokan dan keresahan masyarakat di mana-mana, namun tetap dibiarkan saja. Sampai ada rekomendasi dari MUI agar dilarangpun masih tetap dibiarkan, bahkan sebagian oknum justru membela yang sesat itu dalam rangka menghalangi dakwah Islam.

4. Paling kurang, ada dua kepentingan yang dianggap diuntungkan oleh sikap mendiamkan bahkan “memelihara” aliran sesat seperti yang dilakukan pemerintah selama ini.

  • Kepentingan pertama, aliran sesat itu bisa “dipelihara” kemudian dalam kepentingan tertentu, misalnya untuk menambah jumlah pemilih dalam pemilu (pemilihan umum) dan semacamnya, maka dianggap sebagai salah satu asset/kekayaan.
  • Kepentingan kedua, kalau ada gesekan antara umat Islam dengan pemerintah atau penguasa, maka aliran sesat itu bisa dijadikan “alat pelayanan terhadap umat Islam”, misalnya dengan “pura-pura” aliran sesat itu dihadapi, mau dilarang atau benar-benar ditulis larangan, tetapi nanti dibiarkan saja. Ketika umat Islam sudah bisa “didiamkan”, maka aliran sesat itu justru dirangkul, dibesarkan, dan acara-acaranya dihadiri oleh pejabat tinggi. Kasus aliran sesat Islam Jama’ah yang dilarang tahun 1971 namun kemudian dirangkul, diganti namanya, dipelihara dan dibesarkan itu sudah diketahui secara umum. Itulah kebohongan umum yang diketahui oleh umum pula.

5. “Hal-hal yang dipelihara” itu bukan hanya aliran sesat, tetapi ada juga yang lain-lain. Di antaranya perjudian, pelacuran, pornografi dan semacamnya. Sebenarnya pemerintah atau penguasa kalau mau memberantasnya, hal-hal itu, sampai aliran-aliran sesat pun bisa diberantas. Sedangkan PKI yang jelas-jelas merupakan partai yang besar, termasuk 4 besar dalam pemilu pertama 1955 pun bisa diberantas sejak 1966, apalagi yang hanya aliran sesat, perjudian, pelacuran, pornografi dan sebagainya. Tetapi masalahnya, kalau itu semua diberantas, lantas apa yang jadi bahan “mendiamkan” umat Islam bila ada gesekan antara penguasa ataupun pemerintah dengan umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk ini?

Ketika aliran sesat, pelacuran, perjudian, dan pornografi itu dipelihara, kan nantinya ketika mau merayu umat Islam, apalagi kalau ada gesekan, untuk dijinakkannya umat Islam ini kan sangat mudah bila dengan pura-pura menggebug aliran sesat, menggebug perjudian, pelacuran, pornografi dan semacamnya. Umat Islam secara serempak mendukung pemerintah atau penguasa, dan tercapailah apa yang dimaksud oleh penguasa dan pemerintah, tanpa menghabiskan energi, bagai memberi permen kepada anak kecil sudah cukup. Dan itu sudah dilakukan, di antaranya oleh Alamsjah Ratu Perwiranegara sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Begitu umat Islam dibantai di Tanjung Priok Jakarta Utara, September 1984, maka umat Islam tentu saja marah terhadap kekejaman yang main tembak secara sadis lagi dhalim terhadap massa umat Islam itu. Maka untuk meredam berita itu, Menko Kesra mengadakan rakor (rapat kordinasi) menteri-menteri Kesra, kemudian diadakanlah konperensi pers, bahwa kesimpulan Rakor Menteri-menteri Kesra itu adalah: Pemerintah bertekad untuk memberantas pornografi, perjudian, dan pelacuran. Maka media massa memberitakan secara serempak berita besar bahwa Pemerintah bertekad memberantas pelacuran, perjudian, dan pornografi. Padahal orang selama ini tahu bahwa beberapa hal itu sudah “dipelihara”. Redamlah berita penembakan massal terhadap umat Islam di Tanjung Priok itu. Berita beralih kepada pemberantasan apa-apa yang selama ini “dipelihara”, namun di saat tertentu untuk dijadikan sebagai “pelayanan” terhadap umat Islam itu.

Berita pembantaian terhadap umat Islam itupun surut, sedang berita tentang tekad memberantas pornografi, perjudian, dan pelacuran itu menggema. Umat Islam pun diam, bagai anak kecil telah diberi permen alias kembang gula. Dan di samping itu upaya lainnya, ada Jendral yang keliling ke pesantren-pesantren dan dipeluk oleh para kiai pesantren, padahal dari segi aqidah tidak boleh pelukan begitu hormatnya, karena Sang Jendral itu beda aqidah atau istilahnya kafir. Berkasih-kasihan dengan orang kafir itu dilarang oleh Allah subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an (QS 3:28; 4:144). Tetapi karena ada Jendral yang tampaknya “tulus ikhlas” sowan ke pesantren, maka merupakan satu penghormatan yang sangat hebat bagi para kiai pesantren. Tak tahunya ada udang di balik batu.

Antara “tekad memberantas pornografi, perjudian, pelacuran” dan kunjungan Jendral ke pesantren-pesantren, semua itu hanyalah pelayanan untuk meredam umat Islam. Kalau sudah redam ya sudah. Pelacuran ya marak lagi. Perjudian ya merajalela, bahkan diresmikan secara nasional, dengan bukti: Segera setelah itu penguasa lewat Menko Kesra itu pula mengadakan judi nasional bernama Porkas yang kemudian bernama SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) berupa lotre alias judi nasional tetapi resmi, hingga bangsa ini menjadi bangsa yang keranjingan judi. Dukun marak di mana-mana. Akibatnya, umat Islam Indonesia ini rusak aqidahnya di samping rusak moralnya. Kuburan keramat penuh orang untuk minta wangsit kepada mayit dalam kubur tentang nomor berapa yang nantinya akan keluar. Bahkan orang gila pun ditanyai tentang nomor judi yang akan keluar besok.

Jadi tekad pemerintah untuk memberantas perjudian yang tadinya telah diberitakan besar-besaran itu sama sekali dusta belaka, tidak diwujudkan, tetapi justru sebaliknya, judi nasional yang diadakan. Maka masyarakat kehidupannya merana, sibuk dengan perjudian, banyak yang ekonominya kalang kabut, banyak perceraian akibat bangkrutnya ekonomi. Bahkan tak sedikit yang kupon judinya di saku baju atau celana tercuci oleh isteri mereka, kemudian terjadi pertengkaran dan akibat-akibatnya sangat fatal. Kekayaan rumah tangga pun banyak yang amblas karena dijual demi mengejar keberuntungan dari hadiah kupon judi.

Namun anehnya, ketika rombongan MUI yang dipimpin Ketua Umum MUI KH Hasan Basri –menurut penuturan beliau di depan para tokoh di MUI saat itu— menghadap Presiden Soeharto, dan KH Hasan Basri mengemukakan keluhan masyarakat, bahwa menurut laporan MUI-MUI di daerah-daerah dan laporan masyarakat di berbagai daerah; ternyata SDSB (judi lotre nasional) itu lebih banyak madhorotnya dibanding manfaatnya; maka MUI mengharapkan SDSB itu agar dihentikan peredarannya. Permohonan MUI ini langsung dijawab oleh Presiden Soeharto —menurut penuturan KH Hasan Basri—, “Kalau demikian, Pak Kiai, maka bantulah kami dalam mengurangi madhorotnya itu.” Ini kalau boleh diibaratkan, ada keluarga yang mengadu kepada pemilik rumah kontrakan: “Pak, anak Bapak, selalu berak (maaf) di halaman rumah kontrakan Bapak yang kami tempati. Itu baunya bukan main, Pak.” Kemudian Sang Bapak pemilik kontrakan itu dengan tenangnya menjawab: “Kalau begitu, tolong bantu kami menghilangkan baunya itu.” Inilah kenyataan yang dialami. Seandainya perjudian nasional itu diadakan tanpa sebelumnya sudah berjanji bahwa akan memberantas perjudian pun, sudah merupakan kejahatan besar. Apalagi tadinya sudah berjanji memberantas perjudian, tahu-tahu justru mengadakan perjudian secara nasional, dan bahkan ketika diminta untuk menghentikannya pun justru membalikkan perkataan dengan sangat dinginnya. Seolah tak bersalah sama sekali.

Ini harusnya jadi pelajaran bagi umat Islam. Apakah ketika pemegang pemerintahan sudah berganti, dan di tahun 2007 ada ramai-ramai membahas aliran sesat itu juga justru nantinya untuk merangkul dan membesarkan aliran sesat? Wallahu a’lam.

Pengalaman masa lalu adalah pelajaran berharga, bagi orang yang mau mengkajinya, agar tidak tertipu dan tertipu lagi. Secara garis besar, yang mau memperjuangkan agama, itu hanyalah orang yang shalih. Tetapi ada pengecualiannya, agama ini kadang didukung oleh orang-orang yang nantinya di akherat tidak mendapat bagian apa-apa. Yaitu orang yang sebenarnya tidak shalih, tetapi mendukung agama ini, demi kepentingan dunianya. Itu masih lebih baik, dibanding yang telah dicontohkan tadi. Kalau kenyataannya mereka itu bukan orang shalih, maka paling kurang, mestinya didorong agar tidak terjerumus ke arah mencari keuntungan sambil merusak agama dan masyarakat.

Biarlah mereka mencari keuntungan, asal juga menguntungkan bagi agama dan masyarakat. Bukan yang pura-pura menggebug aliran sesat, tetapi kemudian merangkulnya, namun yang benar-benar menggebug yang sesat-sesat, walau menggebugnya itu bukan karena ketaatannya kepada Allah swt, hanya karena kepentingan dunianya. Itu kalau terjadi demikian, sudah perlu disyukuri, dan lebih perlu disyukuri lagi apabila memang mereka berbuat itu untuk Allah swt.

Dan kalau yang terjadi adalah seperti yang lalu-lalu, maka umat Islam tidak perlu putus asa. Bahwa Allah tetap akan menyempurnakan nur-Nya, walaupun dibenci oleh orang-orang musyrik, orang-orang kafir, dan orang-orang munafik. Sehingga sebenarnya umat Islam ini benar-benar punya pembela yang sangat hebat, yaitu Yang Maha Kuasa. Maka tidak ada kepesimisan bagi orang-orang yang beriman, walaupun orang yang berpura-pura beriman tetap akan merangkul yang sesat-sesat, sambil pura-pura menggebugnya. Itu urusan mereka. Urusan orang beriman adalah meyakini apa yang sudah digariskan oleh Allah swt, bahwa kehidupan di dunia ini adalah ujian untuk menyeleksi mana yang baik di antara hamba-hamba ini di hadapan Allah swt. Kalau setuju dengan yang sesat sudah tentu tidak lulus ujian. Begitulah tentunya.

6. Sebagian tokoh Islam justru memberi peluang kepada kesesatan. Kadang bahkan dukungan terhadap kesesatan itu secara organisatoris, sedang organisasinya cukup besar. Di saat Ahmadiyah difatwakan oleh MUI bahwa sesat menyesatkan, di luar Islam, dan pengikutnya itu murtad; maka sejumlah orang yang mengaku dirinya Muslim, bahkan tokoh, ternyata bangkit untuk membela Ahmadiyah, LDII, Sepilis (Sekulerisme, Pluralisme Agama, dan Liberalisme) dengan cara membantah fatwa MUI.

Hartono Ahmad Jaiz dalam bukunya yang berjudul Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2008).

Theosofi: Kalau Mau Menjadi Muslim Sejati, Lafaz Allah harus Diartikan Air, Api, Angin, dan Bumi (Habis)

Selasa, 22/03/2011 09:56 WIB | email | print

Di sini kita akan mencoba menjelaskan terlebih dahulu tentang bagaimana elemen dasar berupa air, udara, angin, dan tanah, yang menjadi doktrin pewarta theosofi justru kini menjadi rujukan psikotest untuk menjelaskan kepribadian manusia.

Tes Empat kepribadian berupa melankolis, phlegmatis, sanguinis, dan koleris menjalar menjadi psikotes terkenal ketika Flourence Littauer menulis buku Personality Plus tahun 1992. Proyek ini kemudian menjadi sandaran para guru untuk melihat kepribadian para pelajar di sekolah, penyeleksian karyawan di kantor, bahkan dalam keputusan seorang bos menaikan jabatan bawahannya atau tidak.

Orang koleris dalam tipologi Littauer digambarkan memiliki tipe kepribadian yang khas seperti hidup penuh semangat, keras, hati mudah terbakar, berdaya juang besar, optimistis, garang, pengatur, pendendam, dan serius. Ia mudah marah, namun cepat reda. Orang koleris juga digambarkan kuat akan kekuasaan, memiliki visi kepemimpinan, dan kompetitif.

Berbeda dengan orang koleris, manusia bertipikal melankolis adalah orang yang mudah kecewa, peragu, berdaya juang kecil, muram, pesimistis, penakut, dan kaku, namun dibalik itu para melankoler memiliki kadar intelektualitas tinggi. Mereka terkenal atas kegemarannya dalam memiliki kualitas keilmuan yang tinggi dan membutuhkan jawabab-jawaban bermutu dari sebuah kehidupan.

Selain itu ada yang disebut kepribadian phlegmatik. Tipe ini ingin menjelaskan bahwa ada orang di dunia ini yang memiliki tipe kepribadian tak suka terburu-buru, tenang, tidak mudah terpengaruh, setia, dingin, santai, sabar, bahkan pendiam. Ia orang yang sangat sentimental. Berprinsip lebih baik diam daripada berbicara. Gemar melihat album foto pada masa lalu.

Terakhir ada tipe kepribadian sanguinis. Mereka adalah orang-orang yang mudah berganti haluan. Ketika turun dari pesawat mereka ingin jadi pilot, ketika melihat kesuksesan para dokter, segera secepat kilat ingin jadi dokter, namun tak lama kemudian ia beralih memiliki hati menjadi seorang artis ternama. Sanguinis dicirikan orang yang ramah, mudah bergaul, lincah, periang, mudah senyum, dan tidak mudah putus asa.

Untuk lebih jelasnya, anda bisa mendowload ebook menganai tipologi empat kepribadian manusia tersebut: http://www.psikologizone.com/file/ebook-tipe-kepribadian-hippocrates-galenus.pdf. Atau saya sarankan untuk membaca buku Florence Littauer (Binarupa Aksara: 1996). Atau ingin lebih mudah anda bisa membaca buku karangan Adi Gunawan dengan judul Born To Be Genius (Gramedia: 2010)

Mungkin sebagian dari kita mengganguk-anggukan kepala merasakan ada kesamaan kepribadian dengan thesis Littauer itu. Namun sebentar dulu, karena sekarang ada Profesor yang juga memiliki kegemaran berhura-hura. Ada juga Artis ternama yang berubah pendiam setelah hancur karirnya. Padahal, menurut prediksi Littauer mustahil dua kepribadian seperti sanguinis-melankolis atau sanguinis-phlegmatis berada dalam satu tubuh yang sama. Sebab, seiring zaman kepribadian manusia semakin kompleks. Teori ini patut diklarifikasi karena kesederhanaannya menjelaskan manusia. Wajar saja banyak manusia merasa bisa dijelaskan oleh empat kepribadian ini.

Pertanyaan yang harusnya menarik kita semua adalah darimanakah Littauer menjelaskan tentang klasifikasi kepribadian tersebut? Sayangya Littauer tidak begitu rinci menjelaskan (Hanya ada nama Hipoktrates) kecuali sebuah kata pengantar yang berbunyi:

“Saya sekarang lebih yakin daripada ketika saya menulis buku bahwa teori empat watak adalah penjelasan paling baik tentang perilaku manusia.”

Sejarah Empat Elemen dan Invasi Kabbalah

Lebih dari 400 tahun sebelum Masehi, Hipokrates, seorang filsuf Yunani, mengemukakan suatu teori kepribadian yang mengatakan bahwa pada dasarnya ada empat tipe temperamen manusia yakni sanguinis, koleris, melankolis, dan phlegmatis.

Hipokrates mendasarkan itu pada empat elemen alam berupa angin, udara, air, dan tanah. Gagasan ini sebenarnya bukan murni milik Hipokrates, Anaximenes (550 – 475 SM) pernah berpendapat bahwa unsur utama benda ialah udara. Udara melahirkan semua benda dalam alam melalui proses pemadatan dan pengenceran sebagai dinamisasi proses alam. Kalau udara semakin bertambah kepadatannya, maka muncullah berturut-turut angin, air, tanah dan akhirnya batu.

Masing-masing dari empat elemen dasar dunia material ini kemudian berkembang pesat sampai pada konteks ilmu pengetahuan. Dalam bidang fisika, keempat elemen dasar tersebut memiliki karakteristik yang fundamental dalam hukum gravitasi, temperatur, dan hukum masa. Bahkan di Kimia, gagasan ini menjadi acuan Tabel periodic Mendeleev atau tabel unsur kimia yang harus kita hafal saat duduk di bangku sekolah menengah.

Namun sadarkah kita semuanya bahwa sejatinya keempat elemen mendasar ini didasari lebih jauh dari sekedar argumentasi Anaximender dan Hipokrates. Unsur-unsur ini akan lebih mendalam jika kita merujuk pada kitab-kitab Yahudi klasik dimana ada serangkaian penjelasan apakah hakikat dari keempat elemen ini.

Dalam kitab Zohar misalnya, keempat elemen ini menjadi dasar yang disebut berada dibalik penciptaan Adam (Bagian 2, halaman 23, 2, halaman 254, 2, Bagian 3, halaman 225, 1 dan di tempat lain). Sedangkan pada teks Midrash (Bamidbar Raba, bab 14) empat elemen ini disajikan saat menjelaskan urutan dari proses penciptaaan elemen-elemen masing-masing tersebut. Secara spesisifk ini dijelaskan dalam bab tentang mukjizat yang disajikan oleh 12 kepala suku Israel di padang pasir. Midrash sendiri adalah sebuah sistem penafsiran dan penjelasan Talmud dengan tujuan menyesuaikan ajaran-ajaran itu agar dapat diterapkan dalam pola kehidupan yang sudah banyak berubah. Jadi semacam kitab tafsir yang disusun untuk membumikan ajaran Yahudi dengan realitas manusia.

Berbeda dengan kitab Zohar, dalam Kitab Penciptaan (Sefer Yetzira, sebuah kitab yang paling awal dari teks Kabbalah), dikatakan bahwa hanya ada tiga unsur dasar dari alam ini, yakni api, udara, dan air. Sedangkan, unsur bumi hadir melalui proses dari perpaduan tiga elemen mendasar. Moshe Cordovero, seorang Rabbi dari abad 16 mencoba menjelaskan kenapa unsur bumi disebut belakangan tidak bersamaan dengan tiga elemen lainnya. Ia berpendapat bahwa bumi hanyalah hasil dari proses antara api dan air. Ketika air dipanaskan melalui api, skala bumi berkembang dengan cepat. Ia membumbung ke udara lalu membentuk bagian-bagian yang kemudian kita kenal menjadi bumi.

Berbeda dari kitab-kitab sebelumnya, dalam dalam kitab Tanya, empat elemen dasar dinilai sebagai asal muasal karakteristik yang kurang baik. Ia mengacu kepada jiwa hewan dan alam yang masuk ke dalam diri manusia. Secara lebih lanjut dalam Bab I dari kita Tanya dijelaskan bahwa api adalah sumber kemarahan dan kebanggaan. Air adalah sumber dari penganiayaan. Udara adalah sumber kebodohan, bicara dan bualan dan bumi adalah sumber dari depresi dan kemalasan.

Selanjutnya doktrin ini akan semakin cair ketika ia masuk dalam doktrin film anak-anak seperti Avatar the Legend of Aang. Yang Insya Allah kita akan bahas pada kajian selanjutnya dengan judul tersendiri. Sebab, serial kartun anak-anak ini juga mengandung pesan yang tidak mudah kita sepelekan dan dapat menjurus ke arah kesyirikan.

Oleh sebab itu, sudah seharunya Umat Islam berhati-hati jika ada model penawaran kepribadian datang menghampiri.Entah itu empat elemen, tiga elemen, atau lima elemen sekalipun. Kita ketahui dalam kasus New Age Movement saja, Kabbalah bisa sedemikian rupa menutup wajah aslinya lalu tampil manis dengan doktrin-doktrin spiritual quotient, emotional quotient, hingga Emotional and Spiritual Quotient. Semoga Allah melindungi kita semua.

(Habis)

Theosofi: Kalau Mau Menjadi Muslim Sejati, Lafaz Allah harus Diartikan Air, Api, Angin, dan Bumi (I)

Kamis, 17/03/2011 15:25 WIB | email | print

Majalah Pewarta Theosofi Boewat Tanah Hindia Nederland, edisi 1921, tahun KA XIV, Bagian No. 2 menelurkan sebuah artikel khusus tentang Islam. Persoalan ini diangkat karena para pengkaji theosofi ingin mendudukan makna ajaran Islam seutuhnya.

Di majalah mingguan milik aliran kebatinan Yahudi tersebut, dijelaskan bahwa kali pertama kekeliruan sebagian kalangan dalam memaknai Islam, terjadi ketika menafsirkan nama Allah. Hal ini berimbas pada reduksi manusia dalam memahami sifat-sifat Tuhan.

Menurut Majalah Pewarta Theosofi, dibalik lafaz Allah / اللهtersembunyi kekuatan alam yang begitu menakjubkan. Sifat-sifat Allah terebut sudah melekat di dalam nama Allah sendiri berupa unsur-unsur alam seperti Api, Angin, Air, dan Bumi.

Bagaimana maksudnya? Jika diterjemahkan lebih detail, rincian huruf-huruf hijaiyah dalam lafaz Allah terdiri dari Alif, Lam awal, Lam akhir, dan Hha. Dalam catatan Pewarta Theosofie yang berjudul “Hal Agama Islam”, huruf-huruf tersebut memiliki kesinambungan dengan empat kekuatan alam tersebut. Ketika dipasangkan huruf per huruf, maka masing-masing bagian dalam lafazh Allah memiliki kekuatan tersendiri, yakni Alif sebagai Api, Lam awal sebagai angin, dan Lam akhir adalah air, dan Hha serupa dengan bumi.

Majalah yang banyak mengajarkan kesatuan agama-agama ini melanjutkan bahwa menurut hakikat Islam dan Geheime Leer (Kitab Suci Hindi), maka sifat empat tersebut muasalnya berasal dari sifat tiga. Sifat tiga ini diambil dari Tasydid pada lafaz Allah الله yang berarti tiga cahaya berupa matahari, angin, dan air. Ketiga hal tersebut juga memiliki arti Yang Mengadakan, Yang memelihara, dan Yang membinasakan.

Tidak hanya berhenti pada problematika lafaz Allah, perkara keganjilan menafsirkan Islam lainnya menyeruak. Pada halaman 20, majalah pewarta theosofi meletakkan shalat pada urutan pertama dalam rukun Islam, sedangkan syahadat sendiri berada pada urutan kedua. Agak aneh dan ganjil, karena dalam Islam, syahadat adalah pintu pertama seseorang dikatakan muslim.

Namun bisa jadi ini dapat dimaklumi, sebab dalam theosofi, mereka tidak lagi mengenal pembedaan antara satu agama dengan agama lainnya dalam prinsip akidah.

Majalah “Pewarta Theosofi” dicetuskan saat Kongres Theosofi di Bandung. Kala itu jumlah anggota Theosofi berjumlah 445 orang. Terdiri dari 271 Belanda, 157 Bumiputera, dan 17 Cina. Tujuannya menyebarkan dan memberitakan usaha meneguhkan persaudaraan diantara agama-agama.

Pada tanggal 15 April 1912, berdirilah Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (NITV), yang diakui secara sah sebagai cabang Theosofi ke-20, dengan Presidennya D. van Hinloopen Labberton. Tahun 1915, dalam Kongres Theosofi di Yogyakarta, jumlah anggotanya sudah mencapai 830 orang (477 Eropa, 286 bumiputera, 67 Cina).

Kembali ke inti persoalan apakah kaitan antara keempat elemen tersebut pada doktrin theosofi saat ini. Mengingat theosofi sangat menuhankan Alam dalam ajaran agamanya.

Apa pula hubungannya keempat elemen tersebut pada gagasan kepribadian psikologi seperti melankolis, phlegmatis, sanguinis dan koleris yang menjadi rujukan kuat dalam psikotes. Mengingat Hipokrates meletakkan standar kepribadian manusia melalui empat unsur alam tersebut.

Kenapa pula di film anak-anak Avatar ada empat elemen yang persis dengan tulisan di majalah theosofi?

Mengingat anak-anak Indonesia sekarang, tidak begitu faham dan hafal asmaul husna, tapi lebih sering melontarkan doktrin The Legend of Aang, “Kekuatan air..kekuatan angin…” (pz/Bersambung)

Inilah Alasan Mengapa Ahmadiyah Sesat dan Menyesatkan

Kamis, 17/02/2011 12:18 WIB | email | print

Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan M Amin Djamaluddin

1. Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908M) mengaku diutus Allah (sesudah Nabi Muhammad saw):

اِنَّا اَرْسَلْنَا اَحْمَدَ اِلَى قَوْمِهِ فَاَعْرَضُوْا وَقَالُوْا كَذَّابٌ اَشِرٌ

Sesungguhnya Kami mengutus Ahmad kepada kaumnya, akan tetapi mereka berpaling dan mereka berkata: seorang yang amat pendusta lagi sombong – (Tadzkirah, halaman 385).

Bandingkan dengan ayat Al-Qur’an:

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ(1)

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”. (QS Nuh: 1).

Dalam Tadzkirah itu, Mirza Ghulam Ahmad telah berdusta, mengatas namakan Allah telah mengutus Ahmad (yaitu Mirza Ghulam Ahmad) kepada kaumnya. Mirza Ghulam Ahmad telah berdusta, mengangkat dirinya sebagai Rasul utusan Allah, disejajarkan dengan Nabi Nuh as yang telah Allah utus. Hingga di ayat-ayat bikinan Mirza Ghulam Ahmad dibuat juga seruan dusta atas nama Allah agar Mirza Ghulam Ahmad membuat perahu.

2. Mirza Ghulam Ahmad mengaku diutus Allah untuk seluruh manusia (sesuadah Nabi Muhammad saw):

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْ نِىْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ – وَقُلْ يَآاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّى رَسُوْلُ اللهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا (352)

Artinya:”
“Katakanlah (wahai Ahmad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu – dan katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”. (Tadzkirah hal : 352)

Catatan dari LPPI (lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) Jakarta :
Ayat-ayat ini adalah rangkaian dari beberapa ayat suci Al-Qur’an, yaitu :

  • Surat Ali Imran ayat 31
  • Surat Al-A’raf ayat 158

Semua ayat ini dibajak dengan perubahan, penambahan, dan pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat dalam Kitab Suci Ahmadiyah “TADZKIRAH”.

3. Ghulam Ahmad membajak ayat-ayat Al-Qur’an tentang Nabi Isa as namun dimaksudkan untuk diri Mirza.

وَ لِنَجْعَلَهُ اَيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّا وَكَانَ اَمْرًامَقْضِيًّا – يَاعِيْسَى اِنِّى مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَىَّ وَ مُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيُنَ كَفَرُوْا اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ – ثُلَّةٌ مِنَ اْلاَوَّ لِيْنَ وَثُلَّةٌ مِنَ اْلآَخِرِيْنَ (396)

Artinya:
Dan agar Kami dapat menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan – Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku dan mensucikanmu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu diatas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat – Yaitu Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar (pula) dari orang yang kemudian”. (Tadzkirah hal : 396)

Catatan dari LPPI :
Ayat-ayat ini adalah rangkaian dari beberapa ayat suci Al-Qur’an, yaitu :

  • Surat Maryam ayat 21
  • Surat Ali Imran ayat 55
  • Surat Al-Waqi’ah ayat 39-40

Semua ayat ini dibajak dengan perubahan, penambahan, dan pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat dalam Kitab Suci Ahmadiyah “TADZKIRAH”.

4. Ahmadiyah Memiliki Kitab Suci sendiri namanya Tadzkirah, yaitu kumpulan wahyu suci (wahyu muqoddas). Mirza Ghulam Ahmad mengaku diberi wahyu Allah:

اِنَّ السَّمَوَاتِ وَالاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا- قُلْ اِنَّمَا اَناَ بَشَرٌ يُّوْحَى اِلَيَّ َانَّمَآ اِلَهُكُمْ اِلَهٌ وَاحِدٌ (245)

Artinya:
“Bahwasannya langit dan bumi itu keduanya adalah sesuatu yang padu,kemudian Kami pisahkan antara keduanya – katakanlah sesungguhnya aku (Ahmad) ini manusia, yang diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha Esa”. (Tadzkirah halaman : 245)

Ayat-ayat bikinan Mirza Ghulam Ahmad itu dicomot dari sana-sini dengan mengadakan pengurangan dari ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan penyambungan yang semau-maunya yaitu :

  • Surat Al-Anbiya’ ayat 30
  • Surat Al-Kahfi ayat 110

{أَوَلَمْ يَرَالَّذِيْنَ كَفَرُوْآ أَنَّ السَّمَوَاتِ وَالاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا}

Artinya:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”. (Q.S. Al-Anbiya : 30)

{قُلْ اِنَّمَآ اَناَ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَى اِلَيَّ أَ نَّمَآ اِلَهُكُمْ اِلَهٌ وَاحِدٌ}

Artinya:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. (Q.S. Al-Kahfi : 110)

Semua ayat ini dibajak dengan perubahan maksud, pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat dalam Kitab Suci Ahmadiyah “TADZKIRAH”. Ketika ayat Al-Qur’an bicara qul (katakanlah) di situ maksudnya adalam Nabi Muhammad saw. Sehingga manusia yang diberi wahyu dalam ayat Al-Qur’an itu adalah Nabi Muhammad saw. Namun secara licik, Mirza Ghulam Ahmad telah memlintir maksud ayat Al-Qur’an itu ketika dia masukkan ke dalam apa yang dia klaim sebagai wahyu untuk dirinya, maka manusia yang diberi wahyu itu adalah Mirza Ghulam Ahmad. Ini jelas-jelas Mirza Ghulam Ahmad telah berdusta atas nama Allah swt, sekaligus menyelewengkan dan menodai kitab suci umat Islam, Al-Qur’anul Karim, dengan cara keji.

5. Merusak Aqidah/ keyakinan Islam:
a. Mirza Ghulam Ahmad mengaku bahwa Allah itu berasal dari Mirza Ghulam Ahmad

اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ

Kamu berasal dari-Ku dan Aku darimu. (Tadzkirah, halaman 436).

b. Mirza Ghulam Ahmad, mengaku berkedudukan sebagai anak Allah. Ini Allah dianggap punya anak:

اَ نْتَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ وَلَدِىْ

Kamu di di sisi-Ku pada ke-dudukan anak-Ku. (Tadzkirah halaman 636).

6. Menganggap semua orang Islam yang tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul adalah musuh. Kitab Tadzkirah halaman 402:

سَيَقُوْلُ الْعَدُوُّ لَسْتَ مُرْسَلاً

Musuh akan berkata: kamu (Mirza Ghulam Ahmad) bukanlah orang yang diutus (Rasul). (Tadzkirah halaman 402)

7. Selain golongannya maka dianggap kafir dan dilaknat.
Tadzkirah, halaman 748-749:

Laknat Allah ditimpakan atas orang yang kufur

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الَّذِىْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Orang yang bersamamu dan orang yang disekitarmu di-berkahi.

بُوْرِكَ مَنْ مَّعَكَ وَمَنْ حَوْلَكَ.

8. Memutar balikkan ayat-ayat Al-Qur’an. Contohnya:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa – Dia itu tidak masuk ke dalamnya (neraka), kecuali dengan rasa takut.

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ مَاكَانَ لَهُ اَنْ يَّدْخُلَ فِيْهَا اِلاَّ خَائِفًا

Di dalam Al-Qur’an, bunyi ayatnya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ(1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ(2)

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. (QS Al-Masad: 1, 2).

Ahmadiyah menodai Islam dan melanggar Undang-undang
Penodaan terhadap Islam oleh Ahmadiyah dengan ayat-ayat palsu dari nabi palsu tersebut jelas menodai Islam. Bahkan menjadikan pengikut Ahmadiyah itu murtad. Sedang secara undang-undang jelas bertentangan dengan undang-undang, di antaranya:
Undang-undang No.5 Th.1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama menyebutkan;

  1. Pasal 1: Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceriterakan, menganjurkaan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu: penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.
  2. Pasal 4: Pada Kitab Undang–Undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sbb.: PASAL 56 a: Dipidana dengan Pidana penjara selama–lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pokoknya bersifat permusuhan. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia. (hlm. 87-88).

*Hartono Ahmad Jaiz dan M Amin Djamaluddin

Arti Nama-Nama Bulan Hijriyah

Senin, 27/09/2010 11:06 WIB | email | print | share

Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah.

Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 – 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata’ala: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36).

Sebelumnya, orang arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah di tahun gajah.

Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah).

Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw.

Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab.

Orang Arab memberi nama bulan-bulan mereka dengan melihat keadaan alam dan masyarakat pada masa-masa tertentu sepanjang tahun. Misalnya bulan Ramadhan, dinamai demikian karena pada bulan Ramadhan waktu itu udara sangat panas seperti membakar kulit rasanya. Berikut adalah arti nama-nama bulan dalam Islam:

MUHARRAM, artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam.

SHAFAR, artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki.

RABI’ULAWAL, artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninqgalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah. Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga.

RABIU’ULAKHIR, artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan.

JUMADILAWAL nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan.

JUMADILAKHIR, artinya: musim kemarau yang penghabisan.

RAJAB, artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang.

SYA’BAN, artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah).

RAMADHAN, artinya: sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tersebut dalam Al-Quran, Satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan. Hal itu dikarenakan peristiwa-peristiwa peting seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib, pada bulan ini kaurn muslimin dapat rnenaklukan kaum musyrik dalarn perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik.

SYAWWAL, artinya: kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. Itulah yang mernbahagiakan.

DZULQAIDAH, berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatmnya dengan duduk-duduk di rumah.

DZULHIJJAH artinya: yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam as. menunaikan ibadah haji.

Imam Muslim; Penghimpun dan Penyusun Hadits Terbaik Kedua Setelah Imam Bukhari

Kamis, 18/11/2010 14:19 WIB | email | print | share

Penghimpun dan penyusun hadits terbaik kedua setelah Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Sahih . Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang sahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya ‘Ulama’ul-Amsar.

Kehidupan dan Lawatannya untuk Mencari Ilmu

Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz Irak Syam Mesir dan negara-negara lainnya.

Dalam lawatannya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar; di Mesir berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya dan kepada ulama ahli hadits yang lain.

Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. Di waktu Imam Bukhari dating ke Naisabur Muslim sering datang kepadanya untuk berguru sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli.

Muslim dalam Sahihnya maupun dalam kitab lainnya tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Sahihnya yang diterimanya dari Bukhari padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalan Sahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.

Wafatnya

Imam Muslim wafat pada Minggu sore dan dikebumikan di kampung Nasr Abad salah satu daerah di luar Naisabur pada hari Senin 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun.

Guru-gurunya

Selain yang telah disebutkan di atas Muslim masih mempunyai banyak ulama yang menjadi gurunya. Di antaranya Usman dan Abu Bakar keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh Abu Kamil al-Juri Zuhair bin Harb Amr an-Naqid Muhammad bin al-Musanna Muhammad bin Yassar Harun bin Sa’id al-Ayli Qutaibah bin Sa’id dan lain sebagainya.

Keahlian dalam Hadits

Apabila Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadits sahih berpengetahuan luas mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadits serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya.

Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama ahli hadits maupun ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi berkata “Muslim telah mengikuti jejak Bukhari memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya.” Pernyataan ini tidak berarti bahwa Muslim hanyalah seorang pengekor. Sebab ia mempunyai ciri khas dan karakteristik tersendiri dalam menyusun kitab serta metode baru yang belum pernah diperkenalkan orang sebelumnya.

Abu Quraisy al-Hafiz menyatakan bahwa di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adl Muslim . Maksud perkataan tersebut adl ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy sebab ahli hadits itu cukup banyak jumlahnya.

Karya-karya Imam Muslim

Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya di antaranya:

Al-Jami’ as-Sahih, Al-Musnadul Kabir, Kitabul-Asma’ wal-Kuna, Kitab al-’Ilal, Kitabul-Aqran, Kitabu Su’alatihi Ahmad bin Hambal, Kitabul-Intifa’ bi Uhubis-Siba’, Kitabul-Muhadramin, Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid, Kitab Auladis-Sahabah, Kitab Awhamil-Muhadditsin, dan Kitab Sahih Muslim.

Di antara kitab-kitab di atas, yang paling fenomenal dan sangat bermanfat luas serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al-Jami’ as-Sahih atau terkenal dengan Sahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling sahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Sahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam.

Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan membandingkan riwayat-riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa maka lahirlah kitab Sahihnya.

Bukti kongkret mengenai fenomenal kitab itu ialah suatu kenyataan di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan bahwa ia pernah berkata “Aku susun kitab Sahih ini yang disaring dari 300.000 hadits.”

Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah yang berkata “Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.”

Dalam pada itu Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz bahwa jumlah hadits Sahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yang berulang-ulang penyebutannya sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yang tidak disebutkan berulang.

Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya “Tidak tiap hadits yang sahih menurutku aku cantumkan di sini yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para ulama hadits.”

Imam Muslim pernah berkata sebagai ungkapan gembira atas karunia Allah swt yang diterimanya “Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini.”

Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam Sahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut “Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadits daripadanya melainkan dengan alasan pula.”

Imam Muslim di dalam penulisan Sahihnya tidak membuat judul tiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskah Sahih Muslim yang sudah dicetak sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.

Sumber:
1. Kitab Hadis Sahih yang Enam Muhammad Muhammad Abu Syuhbah, Al-Islam
Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
2. al_islam.chm

 

Wong Fei Hung, Ulama Jagoan dari Guandong

o200pt4.jpg

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film “Once Upon A Time in China”. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang ulama, ahli pengobatan, dan ahli beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong).

Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan jurus “Tendangan Tanpa Bayangan” yang legendaris.

Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju.

Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan jurus “Cakar Macan” dan jurus “Sembilan Pukulan Khusus”.

Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek.

Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya.

Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid.

Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.

Source : Majalah Islam Sabili

 

 

Tahukah Anda: Bunga Tulip, Warisan Kekhilafahan Islam Turki Ustmani

Jumat, 17/07/2009 13:08 WIB | email | print | share

Bunga tulip selalu diidentikkan dengan negara Belanda. Ribuan wisatawan datang ke Belanda hanya untuk mengagumi bunga yang cantik dan berwarna cerah ini, yang banyak ditanam di taman-taman negara Kincir Angin itu. Kota Keukenhof di Belanda, setiap tahunnya bahkan dikunjungi sekitar 800.000 orang dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan keindahan aneka bunga tulip dalam Festival Tulip yang diselenggarakan setiap tahun di kota itu. Tak heran masih banyak orang yang beranggapan bahwa bunga tulip adalah bunga asli dari Belanda.

Bunga tulip sebenarnya bukan bunga asli Belanda, karena sebenarnya bunga ini berasal dari Asia Tengah dan Belanda sebenarnya berhutang budi pada kekhalifahan Islam Ustmaniyah di Turki, karena atas peran kekhilafahan Islam inilah Belanda sekarang jadi terkenal karena bunga tulipnya.

Bunga tulip sebenarnya bunga liar yang tumbuh di kawasan Asia Tengah. Orang-orang Turki yang pertama kali membudidayakan bunga ini pada di awal tahun 1000-an dan pada masa pemerintahan kekhalifahan Ustmaniyah, terutama pada masa kekuasaan Sultan Ahmed III (1703-1730) bunga tulip berperan penting, sehingga masa Sultan Ahmed III disebut juga sebagai “Era Bunga Tulip.”

Pada masa itu, istana Sultan memiliki sebuah dewan khusus untuk membudidayakan bunga-bunga tulip. Dewan itu dipimpin oleh seorang Turki yang juga kepala perangkai bunga istana yang tugasnya memberikan penilaian pada kualitas berbagai jenis bunga tulip dan memberikan nama yang indah dan puitis bagi bunga-bunga itu antara lain dengan nama  “Those that burn the heart”, “Matchless Pearl”, “Rose of colored Glass”, “Increaser of Joy”, “Big Scarlet”, “Star of Felicity”, “Diamond Envy”, or “Light of the Mind”.

Hanya bunga-bunga yang memiliki kualitas sempurna yang dimasukkan dalam daftar jenis-jenis bunga tulip itu, yaitu bunga tulip yang memenuhi standar dari ukuran tinggi dan kerampingan kelopak bunganya, bentuk helaian kelopaknya lancip dan jarak antar helaiannya sempit. Helaian kelopaknya harus halus tapi kuat, satu warna, ukuran lebar dan panjangnya pas. Tiga ratus tahun kemudian, komunitas holtikultura Belanda dan Inggris mengajukan baru memikirkan untuk melakukan klasifikasi bunga tulip yang sudah dilakukan jauh sebelumnya oleh ahli perangkai bunga Turki di kesultanan Ahmed III.

Bunga tulip baru dikenal di Belanda pada abad ke-16 dan menjadi sangat populer di kalangan masyarakat kelas atas di negeri itu. Kata “tulip” sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya “sorban”, semacam kain yang dililit untuk menutupi kepala. Tidak diketahui kapan persisnya negara Kincir Angin itu mulai membudidayakan bunga tulip itu, tapi disebut-sebut bunga tulip mulai dibawa ke Belanda pada sekitar tahun 1550-an oleh kapal-kapal yang berasal dari Istanbul.

Dokumentasi pertama tentang penanaman bunga tulip bertahun 1954 di Kebun Raya Universitas Leiden. Menurut catatan itu, bunga tulip yang ditanam di kebun raya universitas Leiden dibawa oleh Carolus Clusius dari Wina, Austria, penanggungjawab taman istana di Austria. Ketika itu, pengaruh budaya Turki sangat kuat di Austria terutama dari gaya berpakaian yang oriental dan tradisi minum kopi.

Memasuki abad ke-17, perekonomian Belanda tumbuh pesat dan memicu persaingan antara pecinta bunga tulip. Mereka berlomba-lomba mencari bunga tulip yang paling indah dan tidak segan-segan membayar dengan harga mahal untuk membeli bunga tulip itu. Harga bunga tulip di Belanda pun makin mahal, bahkan kabarnya ada jenis bunga tulip yang harganya sama dengan harga sebuah rumah. Tahun 1635, satu set bunga tulip yang berjumlah 40 tangkai dijual dengan harga 100.000 florin, bandingkan dengan pendapatan kalangan kelas menengah pada masa itu di Belanda yang hanya 150 florin.

Tahun 1636, usaha bunga tulip menjadi salah satu bisnis yang perdagangan yang masuk dalam bursa saham dan diminati banyak orang. Kalangan pengusaha rela menjual tanah, rumah dan harta bendanya untuk berinvestasi di bisnis bungan tulip. Jenis bunga tulip yang sangat terkenal saat itu adalah jenis tulip yang bernama Viceroy, yang harganya bisa ribuan florin. Belanda menyebut fenomena “demam tulip” ini sebagai fenomena “wind trade” (perdagangan kontrak tulip) yang murni dilakukan dengan spekulasi. Ironisnya, masa keemasan bisnis bunga tulip di Belanda hanya berlangsung setahun, karena pada tahun 1637 pasar bunga tulip jatuh dan harga bunga tulip ikut melorot.

Sampai hari ini, istilah “tulip mania” atau “tulipomania” atau “kegilaan tulip” masih digunakan sebagai istilah untuk menggambarkan goncangnya perekonomian karena munculnya spekulan terhadap sesuatu trend bisnis yang sifatnya untung-untungan. Meski cerita di balik “tulip mania” ini sedikit memalukan, tapi Belanda tetap mencintai tulip dan banyak orang yang tak ingat bahwa tulip-tulip yang indah dan cantik itu hasil budidaya dari jaman kekhilafahan Islam Turki Utsmani. (ln/isc)

Fakta-Fakta Aneh di Balik Kerajaan Saudi

Kamis, 02/07/2009 06:05 WIB | email | print | share

Saudi Arabia mengalir dengan riak tenang yang mempunyai gelombang besar di dalamnya, dan ditutup dengan arus kecil, seolah-olah semuanya baik-baik saja. Dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya, dari segi apapun, Saudi aman terkendali. Pemasukannya per tahun terus meningkat, atau paling tidak cenderung stabil, dan untuk beberapa puluh tahun ke depan, mereka tak akan terpengaruh dalam perangkap krisis ekonomi global. Jamaah haji yang sudah dipastikan membanjir bagai air bah setiap tahun merupakan salah satu jaminan besar, selain juga kekayaan minyak bumi yang berlimpah. Hingga tak heran, anak muda Saudi mayoritas berpikiran tak perlu harus bekerja keras atau belajar dengan susah payah.

Toh semua itu tak menyembunyikan gejolak yang semakin panas di negara itu. Di satu sisi, para pemuda Saudi telah sedikit berani membuat riak-riak kecil. Mereka telah sadar bahwa selama ini, sejak bertahun-tahun lamanya, raja mereka—siapapun yang sedang berkuasa—telah mengebiri gerakan dan perkembangan Islam yang justru mereka lihat di negara-negara lain.

Ada ketertarikan yang besar pada sebagian pemuda Saudi untuk belajar mengenal gerakan Islam. Di negara itu, bayangkan, kerumunan lebih dari 10 orang akan selalu menjadi masalah. Apalagi di dalam masjid. Pada awalnya, para pemuda ini masih mau mengunjungi ulama-ulama yang mereka percayai seperti Shaykh ‘Ali al-Khudhayr, Shaykh Nasir al-Fahd dan Shaykh Ahmad al-Khalidi. Namun seiring perkembangan yang cenderung makin membesar, maka semua ulama itu dibekuk pemerintah, dan dijebloskan ke dalam penjara dengan waktu yang tidak ditentukan. Dalih penangkapan itu adalah ketiga ulama ini merupakan pentolan kelompok Al-Muwahhidden, yang mempunyai banyak persenjataan dan bom. Para Syeh ini sampai detik terakhir mereka diringkus, membantah tuduhan tersebut.

Para pemuda Saudi berada dalam ketakutan dan kebingungan pada waktu yang bersamaan. Mereka sama sekali tidak mempunyai pengalaman menghadapi opresi penguasa. Otomatis mereka tidak lagi mempunyai tempat yang layak untuk bertanya. Mereka ketakutan karena peristiwa penangkapan itu bisa terjadi pada mereka. Bingung karena tak ada pula pengalaman terhadap konspirasi besar.

Mengapa Saudi sangat membatasi gerakan-gerakan Islam bahkan boleh dibilang memberangusnya? Ada beberapa fakta yang menarik untuk disingkap:

1. Rejim Saudi, seperti juga sebagian besar negara-negara Arab lainnya, adalah pemerintahan yang menyatukan antara yang benar (haqq) dan salah (batil). Aspek Haqq Saudi hanya bisa kita lihat dari simbol-simbol yang mereka pakai; bendera Saudi, klaim negara Islam, dan penerapan Syariah. Namun, di balik itu sebenarnya Saudi juga tak berbeda dengan negara sekuler lainnya.

2. Beberapa tahun sebelumnya, Saudi menggandeng Inggris untuk sama-sama memberantas gerakan Ikhwan di negaranya itu. Seorang anggota kerajaan pernah mengungkapkan hal ini. Sekarang, bukan rahasia lagi kalau Saudi akrab dengan AS. AS sudah dijadikan sebagai pelindung Saudi.

3. Komite Tetap Saudi (al-Lajnah ad-Da’imah) mengeluarkan fatwa: “Siapapun yang tidak membedakan antara Yahudi dan Kristen dan orang kafir lainnya dengan bangsa Muslim kecuali karena kebangsaannya, dan menganggap semua penguasa sama, maka dia adalah kafir.” Sebuah fatwa yang sesungguhnya membuat banyak orang berkerut dahi, namun efektif dalam meredam masyarakat Saudi. Karena, bukankah pemerintah Saudi sendiri persis seperti itu?

4. Perempuan Saudi tidak boleh menikah dengan laki-laki yang bukan dari Saudi. Dan seorang laki-laki Saudi tidak boleh menikah di luar Saudi kecuali sudah memenuhi persyaratan umur. Sebuah peraturan yang dibuat-buat karena Islam sendiri tidak cupat seperti ini.

5. Ribuan orang terbantai di negara-negara Muslim di wilayah Arab, tapi apa yang dilakukan oleh pemerintah dan rejim Saudi? Tidak ada. Rejim Saudi hanya menyuruh para Syeikh-nya untuk berdoa untuk umat Islam, dan masyarakatnya dianjurkan untuk mengumpulkan dana bantuan yang disebarkan ke seluruh dunia, utamanya untuk pembangunan masjid. Maka jangan heran, jika di sebuah pelosok terpencil di Indonesia misalnya, bisa ada sebuah masjid besar yang megah dengan tulisan di peresmiannya: “Sumbangan dari (kerajaan) Saudi…”

6. Saudi membangun hubungan diplomatik dan non-diplomatik dengan negara-negara yang jelas telah membantai umat Islam dalam jumlah yang luar biasa banyak. Dalam hal ini yang mempunyai hubungan harmonis dengan Saudi adalah India, Russia, Filipina, Amerika (tentu saja!), Cina, dan Israel.

7. Amerika mempunyai basis militer di Saudi, dan pemerintah Saudi melarang rakyatnya yang mendoakan keburukan untuk Amerika di masjid-masjid di negara itu.

8. Rejim Saudi juga membantu dan mendirikan saluran-saluran TV yang banyak sekali saat ini. Selain TV, mereka juga membantu pendanaan media-media internasional.

9. Keluarga kerajaan Saudi tidak boleh dihina oleh siapapun. Jika ada yang melakukannya, maka akan dikenakan hukuman yang berat, bahkan dihukum mati. Tapi pemerintah Saudi tidak peduli kepada para pelaku yang menghina Allah dan agamaNya. Misalnya saja, seorang Saudi zindiq, Turki al-Hamd menulis sebuah buku berjudul “al-Karadeeb” dan di dalamnya terdapat kalimat “Jadi, Allah dan setan adalah dua wajah dengan satu penemuan”, tidak dikenakan hukuman apapun, dan bukunya yang penuh dengan cerita kekafiran beredar bebas di negara itu. (sa/wkngslm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: