Road To Baitullah

HIKMAH HAJI DALAM ASPEK PENDIDIKAN

A. Pendahuluan

Ibadah haji membawa seribu satu pendidikan dan pengajaran. Alangkah baiknya jika setiap jama’ah haji dan umat Islam dapat menghayati pendidikan dan pengajaran yang tersurat dan tersirat di balik ibadah haji yang mereka lakukan. Bukan hanya sebatas ibadah saja, tetapi lebih dari itu, ibadah haji mendidik pengorbanan bagi setiap jama’ah haji untuk mendapatkan keridhaan Allah swt. dan pengampunan-Nya.

Untuk mendapat keridhaan Allah swt. dan pengampunan-Nya, ia bukan perkara mudah dan murah. Sebaliknya ia menuntut pengorbanan besar dan iltizam tinggi kerena pahala besar yang disediakan Allah swt. bagi haji mabrur, yaitu pengampunan dosa seperti bayi yang baru lahir dan suci serta bersih dari dosa. Justru, untuk meraih peluang keemasan dan pahala besar tersebut, maka tidak dapat tidak ia memerlukan pengorbanan besar, kesabaran dan iltizam tinggi.

Balasan ibadah haji mabrûr adalah surga. Mabrûr yang secara bahasa berarti baik dan dianggap sah, tidak saja cukup terkumpul padanya rukun dan syarat. Namun juga yang lebih penting adalah memiliki pendidikan dan pengajaran sosial terhadap pelakunya. Sebagaimana disinyalir Prof. Dr. Abdul Fatah Mahmud Idris, dalam suatu ibadah, mesti terkumpul di dalamnya tiga aspek: spirit (niat), ritus (praktek) dan pengaruh/hikmah (pendidikan dan pengajaran sosial). Demikianlah keharusan pelibatan ketiga aspek tersebut, agar selanjutnya kita tidak terjebak dalam menangkap makna ibadah haji secara parsial.

B. Hikmah Haji Ditinjau Dari Aspek Pendidikan

Ibadah haji merupakan ibadah yang paling akhir diwajibkan oleh Allah swt. setelah shalat, zakat, dan puasa. Menurut jumhur ulama, haji diwajibkan oleh Allah swt. pada tahun ke-9 Hijriah. Pada tahun ini, kaum muslimin untuk pertama kalinya menunaikan ibadah haji dengan Abu Bakar Siddik bertindak sebagai Amir al-Haj. Rasulullah saw sendiri melakukannya pada tahun berikutnya. (Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, 2/220).

Haji Berbeda dengan ibadah-ibadah lain dalam Islam, ibadah haji memerlukan dan melibatkan banyak aspek, fisik, mental, maupun material. Tanpa terpenuhinya tiga aspek tersebut, agak sulit atau bahkan tak mungkin seorang dapat menunaikan ibadah haji dengan baik dan sempurna.

Ibadah haji, seperti halnya semua ibadah dalam Islam, mengandung pendidikan dan pengajaran moral yang amat tinggi dan luhur. Dengan ibadah haji, tulis Sa’id Hawwa dalam kitab Al-Islam, seorang dapat belajar tentang banyak hal, terutama tentang persaudaraan Islam (ukhuwwah Islamiyah), persamaan manusia (al-musawah), dan persatuan umat. Dengan haji pula, seorang dapat belajar tentang perjuangan, kesabaran, kesediaan untuk berkorban tanpa pamrih, toleransi dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam al-Quran, kepada setiap pelaku ibadah haji, Allah swt. berpesan:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَتَزَوَّدُواْ  فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ.

“Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. al-Baqarah [2]: 197).

Menurut pendapat banyak mufassir, setiap pelaku ibadah haji, berdasarkan ayat di atas, dilarang keras melakukan tiga hal. Pertama, mengeluarkan perkataan yang keji dan kotor atau perkataan tak senonoh yang mengundang birahi (rafats). Kedua, melakukan kejahatan dan berbagai tindakan yang menentang dan melawan hukum-hukum Allah (fusuq). Ketiga, menciptakan permusuhan di antara sesama manusia dengan membanggakan diri dan merendahkan orang lain (jidal ).

Menurut Imam al-Ghazali, makna terpenting dari larangan yang terkandung dalam ayat di atas, ialah terwujudnya kualitas-kualitas moral (al-akhlak al-karimah) bagi para pelaku ibadah haji itu.

Kualitas moral ini tidak saja harus dijaga pada waktu menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, tetapi juga harus diupayakan untuk tetap terwujud dan aktual pada saat ia kembali ke Tanah Air dan kampung halamannya. Adanya peningkatan moral ini disebut oleh Nabi saw. sebagai pertanda dari ibadah haji yang makbul dan mabrur.

Indikator kemabruran haji nampak pada kepribadian dan sikap sebagai berikut:

  1. Patuh melaksanakan perintah Allah swt., khususnya meningkatkan kualitas Shalat sebagai dasar untuk melaksanakan amar makruf nahi munkar. Shalat berkualitas adalah shalat yang dilaksanakan dengan khudhu’ (rendah diri), khusyu’, dan menjaga waktunya.
  2. Konsekuen meninggalkan apa yang diperintahkan Allah swt. karena malu kepada Allah swt.
  3. Gemar melaksanakan ibadah sunnah dan menjauhi amal yang makruh dan tidak bermanfaat.
  4. Meningkatkan rasa syukur dan tawakal. Orang yang melaksanakan haji berarti mendapatkan nikmat besar yang wajib disyukuri disamping berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya lalu berserah diri kepada Allah swt.
  5. Memelihara akhlak terpuji. Akhlak terpuji adalah perilaku orang shaleh yang melekat pada dirinya dalam pergaulan hidup bermasyarakat.
  6. Meningkatkan ibadah puasa dan membiasakan membaca al-Qur’an. Ibadah puasa adalah sarana untuk mencapai ketaqwaan dan mengendalikan syahwat di samping menjaga kesehatan jasmani. Membaca al-Qur’an adalah sarana untuk menambah ilmu yang akan menjadi syafaat di akhirat.
  7. Memelihara kejernihan hati dan kejujuran sehingga tidak mudah terjerumus ucapan dan perbuatan maksiat yang merugikan orang lain.
  8. Bersemangat mencari ilmu dan mengembangkan potensi diri.
  9. Cepat bertaubat ketika menyadari dirinya melakukan kesalahan.
  10. Senantiasa bekerja keras untuk mencari nafkah untuk kebutuhan dirinya dan berusaha tidak membebani orang lain.

Indikator kemabruran haji dapat dilihat pula dari aspek kehidupan sosial kemasyarakatan, antara lain :

  1. Menegakkan  shalat  berjama’ah  dan  menjadi  pelopor kemakmuran masjid. Salah satu pendidikan dalam haji yang mengedepankan pentingnya melaksanakan shalat berjama’ah adalah perintah kepada para jamaah haji untuk melaksanakan shalat arbain (empat puluh waktu shalat) di masjid nabawi yang bertujuan membiasakan para hujjaj untuk selalu sigap melaksanakan shalat berjama’ah di masjid sekembalinya dari haji.
  2. Meningkatkan kepedulian terhadap orang yang lemah, menyantuni anak yatim dan fakir miskin sebagai amanah Allah swt. kepada hamba-Nya yang berkemampuan melalui zakat, infaq dan shadaqoh. Rasulullah saw. menegaskan bahwa salah satu tanda kemabruran adalah kecenderungan serang Hujjaj untuk memberi kepada yang membutuhkan. Sebagai pelayanan masyarakat seorang Haji akan mendatangi anak yatim dan fakir miskin untuk membantu dan menghiburnya untuk mendapatkan keridhaan Allah swt.
  3. Menjenguk orang sakit dan takziyah kepada yang meninggal. Seorang haji yang mendengar sanak saudara atau famili yang sedang menderita sakit atau meninggal dunia akan tergerak untuk menjenguk dan takziah sebagai tindak lanjut talbiyah yang sudah masuk ke dalam hati bukan hanya sekedar di mulut. Menjenguk orang sakit sangat dicintai Allah swt. karena merupakan implementasi dari menghidupkan silaturahmi sehingga puluhan ribu malaikat akan mengiringi orang yang menghidupkan silaturahmi ini.
  4. Aktif memperjuangkan dakwah dan amar maruf nahi munkar.
  5. Tolong Menolong terhadap saudara, kerabat dan tetangganya. Kebiasaan saling tolong menolong merupakan panggilan Illahi yang terbiasa melakukan tolong menolong selama di tanah suci.
  6. Mendamaikan  orang  yang  berselisih. Sebagai duta Allah swt., seorang Hujjaj terpanggil untuk menjadi duta perdamaian yang mendamaikan orang yang berselisih. Jika seorang haji mendengar ada orang yang berselisih, maka berita itu merupakan undangan Allah swt. untuk mengishlahkan orang yang berselisih dan menyambungkan kembali tali silaturahmi di antara mereka.

Setiap pribadi umumnya akan mendapatkan hikmah dan pengalaman sendiri yang boleh diceritakan kepada orang lain sebagai rasa syukur dan pelajaran bagi orang lain. Siapa tahu bisa menjadi wasilah agar orang lain mengikuti jejak kita melaksanakan ibadah haji. Namun bila ada pengalaman kurang baik sebaiknya disimpan untuk introspeksi diri, kalaupun diceritakan bukan untuk menakut-nakuti namun untuk menjaga kewaspadaan.

Allah swt. menjanjikan pengampunan dan surga bagi para pelaku ibadah haji, yaitu orang-orang yang dengan ibadah haji yang dilakukan membuat mereka menjadi manusia-manusia yang berakhlak mulia dan berbudi luhur.

Sabda Nabi  saw.:

مَنْ حَجَّ لله، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

”Barangsiapa menunaikan ibadah haji, dan ia tak berbuat rafats dan fasik, maka ia kembali (suci dan bersih) seperti anak manusia yang baru lahir dari perut ibunya.” (Muttafaqun alaihi)

Ibadah haji bukanlah produk budaya yang bisa dianggap sahih atas pertimbangan pandangan dan kebiasaan kebanyakan orang. Ibadah haji bukan pula sekedar raihan gelar atau rihlah (bepergian) spiritual, hanya untuk melihat aura ka’bah dan jejak-jejak peninggalan para teladan sepanjang zaman. Tetapi Ia memiliki pertanggungjawaban ekstatologis (ukhrâwî) sekaligus mengemban amanah sosial (ardlî).

Betapa filosofi rukun Islam menempatkan ibadah haji sebagai kewajiban klimaks seorang Muslim. Dalam gizi makanan, haji ibarat minuman penyempurna setelah empat kewajiban sebelumnya. Ia disimpan sebagai rukun terakhir setelah pengorbanan lisan melalui kesaksian (syahâdah), pengorbanan waktu melalui kewajiban shalat, pengorbanan harta dengan keharusan zakat. Inilah kenapa istilah manâsik yang berarti pengorbanan, selalu digandengkan dengan ibadah haji. Tiada lain, dalam menunaikan ibadah ini senantiasa menuntut aneka pengorbanan yang selanjutnya mesti membekas pada perilaku kemanusiaannya.

Namun demikian, setelah ibadah haji, tidak berarti selesai segala-galanya. Ia, justru menjadi pintu gerbang awal menuju ibadah dan pendidikan keshalehan sosial lainnya (jihâd). Ibadah haji disebut klimaks, karena ia menjadi penutup kewajiban pengabdian seorang Muslim secara individual. Pendeknya, dari individu ke masyarakat.

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. pernah ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Rasul menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kemudian apa?”, “Jihad di jalan Allah”. “Kemudian apa lagi?”, “Haji Mabrûr”. (Muttafaqun alaih)

Haji bukanlah gengsi maupun prestasi sosial, tetapi Ia menjadi puncak kedewasaan mental-spiritual seorang manusia, karena yang dituju adalah Ibrahim as. sebagai Bapak manusia berkualitas (al-hanîf) sekaligus peletak pertama ibadah ini.

Karenanya, hampir dalam setiap ibadah, tak terkecuali haji, tujuannya adalah meraih ketakwaan. Sebagaimana Allah swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ.

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”  (QS. al-Baqarah [2]: 21)

Secara vertikal dan horizontal, takwa bisa dimaknai sebagai sikap dan mental manusiawi dalam rangka menundukkan diri terhadap perintah Allah swt. Inilah hasil dari pendidikan dan pengajaran suatu ibadah. Dari hati (al-niyyat) turun ke praktik fisik secara lahir (manâsik), kemudian menjelma menjadi sebentuk sikap sosio-relijius (al-Taqwâ).

Haji mabrûr adalah haji yang tidak peduli simbol-simbol budaya kosmetik dan yang mengindividu, melainkan sebuah dorongan murni peningkatan kualitas kemanusiaan seseorang, baik secara individu maupun sosial. Dan, sebagai rukun terakhir bagi kesempurnaan seorang Muslim, ibadah haji menjadi titik untuk mempertemukan sinergisasi keduanya; kewajiban individual sekaligus amanah sosial. Inilah haji mabrûr yang maqbûl, yang pahalanya diterima di sisi Allah swt.

Ibadah haji ke tanah suci merupakan ibadah utama, ia merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Haji adalah ibadah tua seumur bapak para nabi, Ibrahim ’Alaihissalam. Dialah pembangun Ka’bah baitullah dan setelah itu dia mengumumkan haji ke seluruh penjuru bumi.

Firman Allah Ta’ala:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ .

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Isma’il (seraya berdoa), ‘Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 127).

Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ .

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran [3]: 96).

Firman Allah Ta’ala:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ .

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. al-Hajj [22]: 27).

Salah satu hikmah Allah swt. dalam mensyariatkan ibadah adalah Dia menjadikannya beragam, di mana hal ini bisa dilihat dalam ibadah-ibadah yang merupakan rukun Islam, syahadat merupakan ibadah hati karena ia merupakan keyakinan dasar yang kemudian dilafazhkan dengan lisan, sementara shalat adalah gerakan jasad, ia merupakan ibadah badani, lain lagi puasa yang merupakan sikap menahan diri, lalu zakat yang merupakan ibadah hartawi dan yang kelima adalah haji yang menggabungkan semua sisi dari empat ibadah sebelumnya. Dari sinilah, maka haji termasuk ibadah yang terakhir diwajibkan kepada kaum Muslimin yaitu pada tahun 9 H.
Kita menengok kepada syarat wajib haji, ia adalah istitha’ah (kemampuan).

Firman Allah Ta’ala:

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ .

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran [3]: 97).

Kesanggupan atau kemampuan di mana dasarnya menurut para ulama adalah kesanggupan finansial, kesanggupan tenaga dan kesanggupan jalan, untuk mewujudkan semua itu dibutuhkan usaha yang tidak mudah, lebih tidak mudah lagi manakala harta yang telah diraih itu, yang merupakan ketergantungan dan kecintaan jiwa, mesti dirogoh dari kantong untuk membiayai diri, demi rukun Islam yang agung ini, belum lagi kesiapan jasmani di mana modal utamanya adalah sehat. Dibutuhkan jihad melawan kecintaan berlebih kepada harta agar jiwa rela dan lapang mengorbankannya demi kebaikan dan kemaslahatan dirinya sendiri. Dibutuhkan pula jihad melawan kecintaan berlebih kepada sikap santai dan rehat, sebab haji memang mengharuskan kelelahan, baik kelelahan perjalanan dan kelelahan pelaksanaan.

Kita menengok lebih dalam kepada aturan dan tatanan manasik haji. Kita bisa mendapatkan bahwa ia merupakan pendidikan dan pengajaran jihad agar jiwa menghormati dan menghargai batasan-batasan Allah swt., menahan diri dengan tidak melanggarnya. Seperti kita ketahui, haji ditunaikan dalam keadaan ihram, dan dalam ihram ini terdapat pantangan-pantangan yang harus dijaga, seperti pakaian berjahit, topi atau kopyah, mencukur rambut, memotong kuku, membunuh binatang buruan, memakai minyak wangi, bersetubuh, menikah dan menikahkan. Semua ini adalah perkara-perkara yang harus dijauhi semasa ihram, padahal sebagian darinya adalah perkara yang mungkin dalam pandangan sebagian orang sepele, seperti menutup kepala dengan penutup atau memotong kuku. Sementara sebagian lagi merupakan perkara yang disukai oleh jiwa seperti minyak wangi dan bersetubuh. Akan tetapi semua itu adalah batasan-batasan Allah swt. yang tidak patut disepelekan atau dipandang sebelah mata.

Kita kembali menengok, aturan-aturan di atas mengakibatkan sangsi dan hukuman bagi pelanggarnya, mulai dari bersedekah dan berpuasa, sampai dengan mengalirkan darah dengan menyembelih hewan ternak, sebuah pendidikan dan pengajaran kedisiplinan dan tanggung jawab serta kesiapan memikul resiko kelalaian dan kekhilafan, dan itu pun dalam bentuk perbuatan yang kebaikannya kembali kepada diri sendiri atau kepada sesama. Allah swt. berfirman:

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ.

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka kalian sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Hajj [22]: 36-37).

Mari kita lihat dan cermati tempat di mana haji ini dilaksanakan, sebuah tempat yang berpusat di daerah Haram yang memiliki hukum-hukum khusus yang berbeda dengan yang lain, salah satunya jika di daerah selainnya keinginan berbuat keburukan belum diperhitungkan, maka berbeda dengan di daerah Haram, ia diperhitungkan bahkan diancam siksa yang pedih. Firman Allah Ta’ala:

وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ.

“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj [22]: 25).

Oleh karena itu, ayat al-Qur`an yang lain memberikan pengajaran dan pendidikan bagi orang berhaji agar menghindari perkara-perkara yang dapat mengurangi atau menghapus keutamaan ibadah haji. Firman Allah Ta’ala:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ.

“Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. al-Baqarah [2]: 197).

Dan haji yang demikian melebur dosa-dosa pelakunya sehingga dia pulang dalam keadaan sama dengan pada saat dilahirkan oleh ibunya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ حَجَّ لله، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

”Barangsiapa menunaikan ibadah haji, dan ia tak berbuat rafats dan fasik, maka ia kembali (suci dan bersih) seperti anak manusia yang baru lahir dari perut ibunya.” (Muttafaqun alaihi).

Juga sabda Nabi saw. kepada Amr bin al-Ash pada saat dia masuk Islam:

أَمَا عَلِمْتَ يَاعَمْرُو! أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الْهِجْرَةَ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهُ.

Apakah kamu belum mengetahui wahai Amr, bahwa Islam menghapus apa yang sebelumnya, hijrah menghapus apa yang sebelumnya, dan haji menghapus apa yang sebelumnya.” (HR. Muslim).

Kita kembali menengok rangkaian manasik haji: thawaf, sa’i, wukuf, melempar jumrah dan lain-lain. Semua ini merupakan ibadah-ibadah yang menuntut aktifitas fisik yang melelahkan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan bertalbiyah, ditambah dengan kepadatan manusia yang memiliki beragam bahasa dan tradisi, berkumpul di satu tempat, di waktu yang sama, ditambah lagi cuaca yang kadang-kadang berbeda jauh dengan cuaca di negeri sendiri. Semua itu tidak jarang menimbulkan problem tersendiri yang menuntut usaha keras dan kesabaran dalam menyikapinya, maka tidak berlebihan jika Rasulullah saw. mendudukkan haji dalam deretan amalan-amalan utama setelah iman dan jihad di jalan Allah swt.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ رَسُوْلَ الله سُئِلَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: إِيْمَانٌ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ الله. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُوْرٌ.

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang amal apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau ditanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Beliau ditanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur.” (HR. Bukhari)

Tantangan dalam ibadah haji yang dihadapi dan pengorbanan yang diberikan bertujuan melatih dan mendidik, ia demi kebaikan dan kemaslahatan yang tidak mungkin diperinci satu demi satu, akan tetapi yang telah kita ketahui sudah cukup menyadarkan kita akan hikmah mulia dari ibadah haji. Firman Allah Ta’ala:

ِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ.

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya, dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj [22]: 28).

C. Pendidikan dan Pengajaran dan Hikmah Ibadah Haji

Banyak sekali Hikmah yang terkandung dalam ibadah Haji, baik yang dinyatakan dalam al-Qur’an maupun yang harus dicari sendiri oleh pelakunya. Ibadah haji telah mewujudkan pertemuan dialogis antara kesadaran aqidah dan kecerdasan rasio.

Pengalaman spiritual masing-masing orang akan berbeda tergantung kepada banyak faktor. Dalam berbagai amaliah haji seringkali sulit bagi akal manusia untuk memahami atau mengungkapkan apa hikmah yang tersirat di dalamnya yang sepintas terlihat irasional dan tak masuk akal.

Hikmah utama dari ibadah haji adalah sebagai bentuk kepatuhan dan penyerahan diri kepada Allah swt. Ketika Allah swt. memanggil kita, maka kita bergegas memenuhi panggilan tersebut walaupun harus menempuh perjalanan jauh dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, meluangkan waktu yang sangat berharga dan meninggalkan keluarga dan harta benda. Dengan demikian seorang haji akan selalu siap bila Allah swt. memerintahkannya menjalankan tugas luhur dari Allah swt. karena untuk memenuhi tugas yang sulitpun kita telah bersedia datang memenuhi panggilan-Nya. Adapun hikmah haji tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Ihram

Kain ihram yang putih dan sederhana menyimbolkan kesucian dan pelucutan keduniawian dari manusia. Perempuan mengenakan ihram untuk menutup seluruh bagian tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Bagi pria, ihram haruslah tidak berjahit. Hanya berupa lembaran kain yang diselempangkan pada tubuh.

Hikmah pendidikan dan pengajaran di balik kain ihram adalah :

a. Tiadalah  yang  pantas  manusia  sombongkan  di  hadapan  Yang  Maha Kuasa. Kain Ihram menyamakan semua jama’ah yang hadir. Pangkat, suku, dan kekayaan tidak lagi terlihat. Hanya kadar taqwa yang bisa menarik perhatian-Nya.

b. Kain ihram yang kita pakai seolah-olah kita tengah mempersiapkan kain kafan untuk menghadap Allah swt. Kesadaran seperti ini akan memacu kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah. Memahami arti talbiyah dan mengumandangkannya akan menghadirkan hati bahwa kita tengah menuju rumah Allah swt. dan berharap diterima sebagai tamu Allah swt. dalam rangka memenuhi panggilan-Nya.

2. Wukuf

Wukuf di Padang Arafah mengingatkan kita kisah pertemuan di antara Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa a.ha. yang suatu masa dulu telah terjadi di situ. Empat puluh tahun suami isteri itu dipisahkan oleh Allah swt. kerena kekhilafan mereka ketika di dalam Surga.  Kalaulah Allah swt. tidak mempertemukan mereka niscaya tidak lahirlah kita di dunia ini. Besarnya hikmah di balik peristiwa tersebut. Maka sejarah pertemuan mereka itu patut diingati dan disyukuri. Oleh kerana itu disuruh bermalam di Arafah.

Selain itu, pertemuan dan perhimpunan di Padang Arafah mengumpulkan jutaan manusia dari seluruh pelosok dunia, dari bermacam-macam warna kulit. Ada yang datang dari Timur dan Barat dan ada yang datang dari Selatan dan Utara. Ada yang datang dengan kenderaan, ada yang datang melalui udara, ada yang datang secara berjalan kaki, ada yang datang dari jauh dan ada yang datang dari dekat. Mereka berkumpul di Padang Arafah dengan pakaian yang seragam berwarna putih. Seolah-olah kita terutama yang berada di sana, mengingati bayangan Mahsyar. Mahsyar merupakan tempat yang tidak dapat tidak kita mesti menuju ke sana.

Perhimpunan di padang mahsyar merupakan perhimpunan besar yang akan berlaku selepas manusia dimatikan. Di sana, kita tidak kenal lagi mana yang kaya dan mana yang miskin, tidak kenal lagi mana raja dan mana rakyat jelata, tidak kenal lagi mana yang berkuasa dan mana yang dikuasai, tidak kenal lagi mana alim dan mana yang jahil, dan tidak kenal lagi mana yang ada jabatan dan mana yang tidak memiliki jabatan. Artinya manakala berhadapan dengan Allah swt., manusia itu sama kedudukannya, kecuali sebagaimana yang Allah swt. telah nyatakan kepada kita.

Firman Allah swt.:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ، إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ .

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat [49]: 13)

Perbedaan manusia di sisi Allah swt. adalah sifat taqwa ataupun amal shalehnya, baik ia berada di dunia, terlebih lagi di akhirat. Pangkat tidak menjadi pembeda, cantik tidak menjadi pembeda, jabatan tidak menjadi pembeda, pandai, pintar, cerdik, alim tidak menjadi pembeda di antara manusia di sisi Allah swt.

Perbedaan di antara manusia di sisi Allah swt. adalah lantaran ketaqwaannya. Mengapa kaya dengan miskin tidak menjadi pembeda? Alim dan jahil tidak menjadi pembeda, yang berkuasa dan yang dikuasai tidak menjadi pembeda, yang cantik dan yang jelek tidak menjadi pembeda di antara manusia di sisi Allah swt.?

Ini dikarenakan beberapa hal:

a. Manusia ini adalah sama keturunannya, kejadiannya yang pertama maupun kejadiannya yang kedua, adalah sama belaka. Tidak ada perbedaan di antara satu sama lainnya. Semua manusia ini, di semua peringkat dan derajatnya adalah berasal dari Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa dan semua manusia ini asalnya yang pertama adalah dari tanah. Tanah yang hina dan yang dipijak-pijak. Dan kejadian manusia yang kedua juga adalah sama, dari air mani yang hina.

b. Keadaan manusia adalah sama, ada yang kaya, yang miskin, yang pandai, yang bodoh, yang cantik, yang jelek, yang berkuasa maupun yang dikuasai, kalaulah tidak makan, akan sama-sama berhadapan dengan kelaparan. Kalau sama-sama tidak minum, akan berhadapan dengan kehausan dan seterusnya.
Dalam arti kata lainnya, bahwa manusia ini merupakan sebuah keluarga besar sambung-menyambung dari Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa hingga sampai kepada kita ini dan akan disambung oleh zuriat (keturunan) kita selepas ini nanti.

Justru karenanya, wukuf memberikan pendidikan dan pengajaran kepada kita bahwa:

a. Manusia itu sama saja di sisi Allah swt. Tidak mempunyai perbedaan apa-apa, yang membedakan hanyalah taqwa-nya.

b. Saat inilah seorang muslim diharapkan  bisa lebih mengenali dirinya dan mengenali Allah swt. sebagai Rabb-nya dengan berdiam, merenung, introspeksi dan bertaubat.

c. Seorang muslim diharapkan  bisa lebih mengambil pendidikan dan pelajaran  bagaimana manusia di padang Mahsyar, diam, cemas dan penuh harap saat menunggu keputusan Allah swt.: Surga atau Neraka.

3. Thawaf

Awal thawaf dimulai dengan “Bismillahi Allahu Akbar” sambil menyentuh atau menghadapkan telapak tangan kanan kita ke arah Hajar Aswad yang  melambangkan Pencipta. Kemudian thawaf  7  putaran  yang melambangkan putaran tujuh langit yang mengelilingi Arsy Allah.
“Thawaf” memberikan pendidikan dan pengajaran kepada kita bahwa : Allah swt. Memberikan kebebasan manusia untuk beraktifitas. Namun aktiftas itu tetaplah harus berada dalam orbit aturan Allah swt.

4. Sa’i

Kisah ketaatan, ketabahan dan keimanan Siti Hajar, ketika suaminya Nabi Ibrahim a.s. meninggalkannya seorang diri bersama anak kecil mereka di padang pasir yang tandus, dia terima saja sambil berkata, “Semoga Allah swt.  tidak menyia-nyiakan saya.”

Oleh kerena panas terik, maka air susunya kering. Anak kecilnya, Nabi Ismail a.s. menangis kehausan, sambil kakinya menepuk-nepuk pasir. Siti Hajar meninggalkan anaknya dan berlari-lari mencari air di tanah gersang itu. Bila ia ingat anaknya takut-takut bila terjadi sesuatu, maka dia berlari pula kepada anaknya. Bila dilihat anaknya selamat, dia berlari lagi pergi mencari air. Begitulah diulang-ulang, hinggalah akhirnya didapati air melimpah keluar di tempat anak kecilnya yang bermain dengan air yang terpancar itu.

“Zam, zam, zam, zam,” kata Siti Hajar sambil membenteng airnya dan kekallah air itu hingga hari ini, yang Allah swt. keluarkan untuk Nabi Ismail a.s. demi memelihara baginda dari mati kehausan.

Sa’i memberikan pendidikan dan pengajaran kepada kita bahwa:

a. Ketaatan, ketabahan dan keimanan  seorang  wanita  shalihah  seperti  Siti Hajar harus bisa dicontoh dan ditauladani, ketika suaminya Nabi Ibrahim a.s. meninggalkannya seorang diri bersama anak kecil mereka di padang pasir yang tandus, ia sanggup ditinggal seorang diri di padang pasir yang kering-kerontang, hingga terpaksa berlari ke sana kemari mencari air dalam keadaan letih, lapar dan kekawatiran akan keselamatan anaknya. Maka Allah swt. perintahkan kita melakukan sa’i. Yakni berlari kesana kemari seperti Siti Hajar di tempat berlakunya peristiwa itu. Semoga jadilah hati kita seperti iman Siti Hajar, wanita agung yang mendapat penghormatan dari Allah melalui al-Qur’an al-Karim.

b. Sa’i yang secara harfiyah artinya usaha melambangkan upaya Siti Hajar saat mencari air untuk anaknya Ismail a.s. Di tengah gersang dan tandusnya gurun, Siti Hajar tidak berputus asa mencari air berulangkali antara Bukit Shofa dan Marwah. Usaha itu pun berbuah manis dengan keluarnya mata air dari hentakan kaki anaknya sendiri yang sedang menangis. Hal ini mencontohkan manusia untuk gigih dalam upaya mendapatkan karunia Allah swt.

c. Hikmah  lainnya  adalah  kita  dikondisikan  untuk  ingat  kelak  saat penghisapan  mata  kita  akan terus berpindah-pindah dengan  penuh was-was dari kiri ke kanan, kanan ke kiri. Dari timbangan kebaikan ke  timbangan dosa dan sebaliknya. Berpindah pindahnya mata kita tadi seperti berbolak-baliknya dari Shafa ke  Marwah, Marwa ke Shafa dan seterusnya.

5. Tahallul

Tahalul yang berarti halal yaitu menggunting/mencukur rambut. Setelah bertahalullul, sesuatu yang semula tidak diperbolehkan menjadi boleh. Tahallul memberikan pendidikan dan pengajaran kepada kita bahwa: Kita melakukan suatu perbuatan itu karena dihalalkan/diperintahkan oleh Allah swt., dan kita pun harus menjauhi dari suatu perbuatan yang diharamkan-Nya.

Akhirnya kunjungan ke tanah suci harus diakhiri. Jamaah bergegas meninggalkan Mekah menuju Jeddah untuk kembali ke tanah air. Kerinduan terhadap keluarga yang ditinggalkan akhirnya akan terpenuhi. Namun kenangan terhadap Masjidil Haram dan Kabah akan abadi selamanya.

D. Realisasi Haji dalam kehidupan

Dr. Ali Syariati, melalui ketajaman analisanya, mengajak kita untuk menyelami makna haji. Menggiring kita ke dalam lorong-lorong haji yang penuh makna, bukan yang hampa tak bermakna. Diajaknya kita untuk memahami haji sebagi langkah “pembebasan diri”, bebas dari penghambaan kepada tuhan-tuhan palsu menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Sejati, yakni Allah swt.

Melalui uraiannya yang khas dan membangkitkan semangat, kita diberitahu siapa saja kepalsuan yang ternyata menjadi sahabat, kekasih dan pembela kita, yang harus kita waspadai dan kita bongkar topeng-topeng kemunafikannya. Haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagi manusia. Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang “tampil beda” (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelumnya. Dan ini adalah kemestian. Kalau tidak, sesungguh, kita hanyalah wisatawan yang berlibur ke tanah suci di musim haji!

Tanda-tanda kemabruran haji seseorang adalah jika ia mampu membentuk kepribadiannya menjadi lebih baik setelah melaksanakan haji dibandingkan sebelumnya dan tidak lagi mengulang maksiat.
Pelestarian Ibadah haji dilaksanakan dengan merealisasikan apa yang dilakukan selama haji dalam kehidupan sehari-hari. Keterkaitan antara pelaksanaan haji dengan kehidupan sehari-hari antara lain terwujud dalam:

  1. Pengambilan sikap untuk berbuat sesuai aturan Allah swt. sebagai realisasi dari pengambilan miqat ihram.
  2. Menjaga diri dengan aturan dan membatasi diri dari hal yang mengharamkan sebagai realisasi dari ihram.
  3. Senantiasa mendahulukan panggilan Allah swt. dan tidak membaurkan dengan niat dan tujuan lain sebagai realisasi dari ungkapan Talbiyah.
  4. Memperjuangkan syiar Allah swt. sehingga Allah swt. dan Islam menjadi pusat dari perputaran dunia sebagai realisasi kepatuhan dan kekhusyu’an dalam ibadah Thawaf.
  5. Senantiasa berintrospeksi sebagai perwujudan makna Wukuf di Arafah.
  6. Senantiasa berkurban di jalan Allah swt. dengan harta dan jiwa sebagai realisasi dan makna berqurban dan tahallul.
  7. Kesediaan untuk sewaktu-waktu beri’tikaf, berkhalwat dan tadabur alam sebagai realisasi makna mabit.
  8. Keharusan berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk meraih kehidupan dan cita-cita masa depan sebagai realisasi Sa’i antara Safa dan Marwah.
  9. Memelihara kelestarian alam dan menghindari seluruh aktivitas yang merusak lingkungan hidup sebagai realisasi larangan berburu, memotong pohon dan menyakiti orang lain selama berhaji.
  10. Berjiwa toleran dan saling menghormati sesama sebagai realisasi makna larangan untuk berbuat rafats, fusuq, dan jidal.

Hikmah terbentang di mana-mana. Tidak hanya haji sebagai puncak kesempurnaan rukun Islam, hal terkecil dan terdekat dengan kita pun merupakan lautan hikmah. Semoga Allah membimbing hati kita, agar hikmah itu tidak luput dan sia-sia, tetapi memberikan manfaat yang besar, amin ya Rabbal ‘alamin.

E. Kesimpulan

Hikmah Ibadah haji ditinjau dari aspek pendidikan, mencakup lima ajaran Islam yang luhur, yaitu:

Pertama: Ibadah haji mengandung pendidikan dan pengajaran yang tegas agar ummat Islam sedunia membina persaudaraan dan hubungan yang seerat-eratnya agar bisa terwujud “ukhuwwah islamiyyah” yang suci dan murni. Karena rasa persaudaraan ala Islam itu harus tertanam di dalam sanubari ummat Islam dimana saja.

Kedua: Secara demonstratif atau aksi, ibadah haji memberi isyarat bahwa Islam bertujuan pokok yaitu mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah swt. semata. Semua taktik dan cara yang digunakan, baik itu rukun haji, wajib haji, dan sunnah haji, tujuannya tidak lain untuk mengajak ibadah kepada Allah swt. semata.

Ketiga: Ibadah haji mendidik dan memberikan pengajaran kepada kita ummat Islam agar selalu mengagungkan nama Allah swt., melebihi segala-galanya. Mengagungkan Allah swt. adalah perintah agama Islam yang hukum-hukumnya dan pertaturannya telah termuat dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Keempat: Ibadah haji mengandung pendidikan dan pengajaran luhur, yaitu agar ummat Islam jangan sampai menyepelekan masalah persatuan. Ummat Islam harus bersatu padu, rukun dan damai, jangan sampai bermusuhan dan bertengkar, tetapi harus tetap manunggal menjadi satu dalam barisan.

Kelima:  Ibadah haji mengandung pendidikan dan pengajaran luhur, yaitu agar ummat Islam berjuang menyiarkan agama dengan setegak-tegaknya di dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kehidupan dalam rumah tangga hingga hidup bermasyarakat dan bernegara.

Demikianlah beberapa hikmah ibadah haji ditinjau dari aspek pendidikan, oleh karena itu Rasulullah saw. bersabda:

الْحَجُّ اْلمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاّ اْلجَنَّةُ  (رواه البخاري ومسلم)

“Haji yang mabrur tidak lain balasannya kecuali hanya surga” (HR. Bukhari-Muslim).

Selain itu, Ibadah haji merupakan “madrasah keimanan” yang akan menambah keimanan seorang muslim, meningkat derajatnya dihadapan Allah swt., dan akhlaknya bertambah baik. Tentu apabila dilakukan dengan sebaik-baiknya, menjauhi perbuatan maksiat, pertengkaran, permusuhan, dan tidak menyakiti yang lainnya sesama muslim.  (Wallahu a’lamu bi ash-shawab).

IBADAH HAJI DAN TRANSFORMASI DIRI

Ibadah haji merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki makna multi aspek, ritual, individual, politik psikologis dan sosial. Dikatakan aspek ritual karena haji termasuk salah satu rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan setiap muslim bagi yang mampu (istitho’a), pelaksanaannya diatur secara jelas dalam Al Quran. Haji sebagai ibadah individual, karena keberhasilan haji sangat ditentukan oleh kualitas pribadi tiap-tiap umat Islam dalam memahami aturan dan ketentuan dalam melaksanakan ibadah haji.

Haji juga merupakan ibadah politik, sebab mulai dari persiapan sampai pelaksanaanya, peran dan partisipasi pemerintah (Departemen Agama) sangatlah dibutuhkan. Aspek psikologis ibadah haji berarti setiap individu jamaah harus memiliki kesiapan mental yang kuat dalam menghadapi perbedaan suhu, cuaca (iklim), budaya daerah yang tentunya berbeda dengan situasi (iklim) bangsa Indonesia. Yang tidak kalah pentingnya dari ibadah haji adalah makna sosial, yaitu bagaimana para jamaah haji memiliki pengetahuan, pemahaman dan mampu serta mau mengaplikasikan pesan-pesan simbolik ajaran yang ada dalam pelaksanaan ibadah haji ke dalam konteks kehidupan masyarakat.

Syarat dan rukun ibadah haji tidak semata-mata hanya untuk kepentingan transendental (habl min-Allah) tetapi justru yang paling penting adalah dapat mengambil makna di balik simbolisasi ritualitas haji untuk membentuk kepribadian atau moralitas pergaulan antar sesama manusia. (habl min al-Naas) Dengan demikian, memahami dan menemukan makna sosial dalam ibadah haji menjadi suatu keniscayaan bagi setiap umat Islam umumnya dan para jamaah haji khususnya.

Dewasa ini, haji telah dijadikan sebagai salah satu ukuran atau parameter untuk melihat status sosial seseorang. Hal ini disebabkan orang yang berhaji dianggap sebagai orang Islam yang shaleh, karena telah menyempurnakan agamanya (baca: rukun Islam), dan secara ekonomi termasuk orang yang kaya atau lebih dari cukup (baca: cukup dari segi materi). Alasan itulah yang digunakan masyarakat kita pada umumnya untuk menilai orang yang dapat melakukan ibadah haji. Sehingga orang yang telah mampu melaksakannya dinilai sebagai orang yang telah “sempurna” agamanya. Ibarat makanan 4 sehat 5 sempurna, dikatakan belum lengkap jika belum memenuhi aspek yang ke-5, yaitu minum susu. Demikian juga rukun Islam dikatakan belum sempurna jika belum menunaikan ibadah haji. Haji berfungsi sebagai pelengkap (komplementer) dari rukun islam yang lain.

Merupakan suatu keharusan bagi individu umat Islam yang memenuhi panggilan Allah ke tanah suci Makkah-Madinah, untuk merenungkan esensi dan substansi haji di tengah simbolitas dan formalitas syarat-rukunnya. Diharapkan, dengan refleksi mendalam makna di balik itu, jamaah haji menemukan energi transformasi internal menuju terbentuknya kesalehan ritual dan sosial yang menjadi barometer kebahagiaan dunia akhirat.

Sampai sekarang, mayoritas umat ini masih terjebak dalam simbolitas syarat-rukun, tanpa mampu mengungkap makna substansial di balik itu. Maka, pasca haji tidak ada transformasi internal dalam kehidupannya. Kebanyakan orang lebih memaknai ibadah haji sebagai ibadah yang hanya penuh dengan ritual simbolik-transedental saja. Artinya, predikat haji bagi seseorang hanya dilihat dari kemampuan berangkat dan datang kembali ke Tanah Air dengan disertai oleh-oleh “khas” haji (cerita unik atau pengalaman religius) yang beraneka warna. Padahal, jika kita berfikir dan merenungkan, ibadah haji juga banyak mengandung makna sosial. Hal ini didasarkan pada substansi Islam sebagai agama rohmatan lil’alamiin.

Kesalehan ritual dan sosial adalah ibarat dua mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan. Kesalehan ritual mampu membuat orang menjadi shaleh sosial dan shaleh sosial muncul karena intensitasnya melakukan ritual. Tidak ada aspek ritual-transendental yang lepas dari orientasi sosial. Dalam sebuah hadits disebutkan, ketika Nabi sedang khotbah di Masjid Nabawi mendapat interupsi dari malaikat Jibril yang memanjatkan 3 (tiga) doa kehadirat Allah. Nabi saw yang mendengar doa itu mengamini sambil meneteskan air mata karena sedih. Ketiga doa itu adalah, “Ya Allah, jangan engkau terima puasa orang-orang yang senantiasa bertengkar antara suami istri”, “Ya Allah, janganlah Engkau terima puasa mereka yang suka bertengkar di antara tetangga”, “Ya Allah, janganlah Engkau terima puasa mereka yang memberi beban terlalu berat kepada karyawan atau pembantu rumah tangga selama bulan puasa” (Abu Su’ud, 2004). Ini adalah salah satu indikator, diterimanya ibadah ritual sangat terlihat dari interaksi sosialnya yang selalu dihiasi moralitas luhur.

Lalu, bagaimana dengan haji? tentu saja, nilai dan hikmahnya berlipat ganda dibanding yang lain. Oleh sebab itu, jamaah haji harus mengetahuinya. Salah satu caranya adalah mengungkap makna di balik syarat dan rukunnya. Makna sosial ibadah haji dapat diambil dari serangkaian kegiatan yang dilakukan selama ibadah haji berlangsung. Di antara kegiatan ritual haji yang mengandung makna sosial (Muchit:2003) antara lain:

Ihram, mengandung makna melepaskan dan membebaskan diri dari lambang material dan ikatan kemanusiaan, mengkosongkan diri dari mentalitas keduniawiaan, membersihkan diri dari nafsu serakah angkara murka, kesombongan serta kesewenang-wenangan.Thawaf, mengandung isyarat keluar dari lingkungan manusia yang buas masuk ke dalam lingkungan Rabbaniyah yang penuh kasih sayang, saling menghargai dan saling menghormati. Sebelum thawaf, jamaah haji terlebih dahulu melontar jumrah sebagai pertanda mengusir setan yang menggoda Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as dan Siti Hajar. Setiap jamaah haji harus selalu berusaha mengusir godaan setan yang bersarang dalam dirinya. Sa’i, mengandung isyarat kesediaan menjalankan tugas dan tanggung jawab (berjalan) bagi jamaah haji ke arah hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Tahallul, (memotong rambut) mengandung isyarat pembersihan, penghapusan sisa-sisa cara berfikir yang kotor yang masih berada dalam kelopak kepala masing-masing manusia. Jamaah haji yang telah menjalankan tahallul mesti harus memiliki cara berfikir, konsep kehidupan yang bersih, baik, tidak menyimpang dari etika dan norma sosial maupun agama.

Makna sosial ibadah haji mengajarkan kepada umat Islam umumnya dan jamaah haji khususnya senantiasa merubah pikiran, sikap serta perilaku (tindakan) yang lebih bermanfaat untuk masyarakat dan orang lain, jangan sampai memiliki persepsi bahwa ibadah haji itu hanya untuk Allah, justru yang paling penting adalah ibadah haji itu diperuntukkan bagi sesama manusia dengan cara selalu menjaga, menghormati, menghargai serta saling menjunjung tinggi martabat manusia. Sabda rasul dalam dalam kitab Ruhul Bayan Jilid II: “Tidak akan berhasil bagi orang yang melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci jika tidak membawa tiga hal; (1) sikap wara’ yang membendung dirinya melakukan yang diharamkan, (2) sikap sabar yang dapat meredam amarah, (3) dan bergaul baik dengan sesama manusia”.

Haji yang mampu mentransformasikan pribadi menjadi insan shalih dan akram seperti inilah yang dinamakan Haji Mabrur, yang dalam hadits Nabi dijanjikan dengan surga. Wa al-Hajju al-Mabruru Laisa Lahu al-Jazau illa al-Jannah (haji mabrur tidak ada balasan yang pantas kecuali surga). Sebaliknya, haji yang hanya bertendensi isqatul fardli (hanya melaksanakan kewajiban) atau malah ada pretensi dan ambisi duniawi (popularitas, nama besar dan status sosial lainnya), tidak begitu banyak manfaatnya. Karena ia telah mereduksi haji hanya ritualitas tanpa menemukan makna reflektif-transformatif sosialnya. (10 Juni 2007)

panduan-ringkas-umrah-v3

Panduan Umroh & Ziarah Makkah-Madinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: