Posted by: Inyong's | May 15, 2008

MENJADI AYAH YANG HANGAT

Kesibukan kerja orang tua terbukti telah merampas waktu buat anak-anak, bisa mengakibatkan munculnya perilaku negatif. Tapi sebenarnya ada beberapa jalan untuk tetap menjaga hubungan yang harmonis antara ayah dan anak.

Ketika Richard Nixon berhenti sebagai presiden AS pada 9 Agustus 1974, dia menyampaikan kata perpisahan pada stafnya di Gedung Putih. Dalam kata sambutannya Nixon ingat akan ayahnya. “Ayah adalah orang yang hebat,” katanya.

Kesan Nixon menggambarkan betapa sosok ayah sangatlah berarti bagi seorang anak. Apakah sang ayah sukses atau tidak di masyarakat bukanlah soal besar; ayah tetaplah pahlawan bagi anak-anaknya. Buat anak, ayah adalah kombinasi seorang pahlawan, pembimbing, penasihat, pelindung, guru, sekaligus kawan.

Seorang teman mengisahkan, setiap hari ia bersama suaminya pergi ke kantor yang kebetulan berlokasi sama. Menjelang malam mereka baru tiba di rumah. Kedatangan pasutri ini disambut dengan suka cita oleh anak lelakinya yang berumur 11 bulan di teras rumahnya. Anehnya, kendati si ibu berada di depan, justru sang ayahlah yang lebih hangat disambut. “Anak saya baru butuh saya kalau lagi lapar atau sakit,” kata ibu muda itu.

Menjadi ayah yang “hangat” memang tidak berhenti pada saat anak lahir. Justru ketika itulah proses awal menjadi ayah yang baik dimulai. Sayangnya, hal itu tidak mudah untuk dilakukan. Apalagi di luaran tidak tersedia lembaga pendidikan khusus – lebih-lebih yang formal – untuk melatih atau mempersiapkan seorang laki-laki menjadi ortu (orang tua) yang baik. Posisi sebagai ortu biasanya diambil secara otomatis atau begitu saja. Akibatnya, sering terjadi proses pendidikan terhadap anak juga dilakukan secara otomatis, sadar atau tidak, sama seperti yang pernah diperoleh dari ortunya dulu.

 

Parenthood

Lantaran warisan pendidikan turun-temurun inilah banyak orang beranggapan, pengasuhan anak dalam keluarga menjadi porsi ibu. Namun, menurut Irwanto, Ph.D. dari Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat Unika Atmajaya, Jakarta, pandangan itu mulai berubah. Sejak tahun 1997 ada dorongan gerakan partisipasi laki-laki di dalam keluarga. Gerakan di tingkat dunia ini muncul lantaran selama kurun waktu 15 – 20 tahun terakhir, terjadi pergeseran konsep dari motherhood menjadi parenthood. Dalam konsep parenthood, bukan hanya ibu yang penting, tetapi orang tua, dan orang tua itu dua: ayah dan ibu.

Dari sini mulai dikembangkan konsep orang tua yang baik dan hangat. “Di masa lalu yang namanya ayah itu selalu ditakuti. Ia juga figur yang dianggap sebagai penanggung jawab moral keluarga, yang menurunkan nilai-nilai penting pada anak-anaknya. Untuk itu ayah harus menakutkan. Kalau perlu, ayah tak perlu banyak bicara tapi anak takut,” urai Irwanto.

Dilihat dari trend-nya, banyak ayah muda masa kini di berbagai belahan dunia merasa tidak adil kalau harus jadi sosok yang menakutkan. “Masa sosok seorang ayah harus ditakuti oleh anak-anaknya, sehingga ia diajuhi atau jauh dari anak-anaknya,” begitu pikir mereka. Dari sini timbul kesadaran bahwa ayah masa kini tidak ingin seperti ayah zaman dulu.

Menurut doktor psikologi bidang perkembangan anak ini, ayah masa kini mungkin sedikit lebih cerewet tapi jauh lebih dekat dengan anaknya. Bisa bermain, bisa apa saja, bahkan bisa menjadi teman bagi anak-anaknya sendiri.

Lalu, apa peranan ayah yang spesifik bagi anak-anaknya? Secara tegas Irwanto menyatakan, ayah berperan dalam membangun citra diri anak. Khususnya citra diri mengenai kelaki-lakian. Kedua orang tua diharapkan menunjukkan pada anaknya bahwa tanggung jawab keluarga itu memang dipikul bersama-sama. Misalnya, mengasuh anak, bernyanyi, bermain dengan anak-anak. Artinya, wawasan gender dalam peran laki-laki dan perempuan itu tidak dipersempit, tetapi sebaliknya diperluas.

Irwanto tidak menampik pandangan bahwa menjadi ayah modern sering dihadapkan pada stereotipe tertentu. Misalnya, kalau anak pegang kepala orang lain (atau orang tua), hal itu dianggap kurang ajar. Apalagi kalau di Jawa, pegang kepala itu bisa kualat. Nah, untuk menjadi ayah yang hangat, asumsi semacam itu harus diterjang. Untuk itu perlu dikembangkan konsep pertemanan di mana ayah tidak selalu memerintah ataupun melarang, dan sebagai orang tua mereka juga bisa ditegur atau diajak bermain.

Salah satu persiapan penting menjadi ayah yang efektif adalah persiapan sebelum anak lahir. Di sana ayah belajar memahami anak, misalnya dengan mendengarkan cerita ibu tentang anaknya yang sedang dikandung, belajar mengganti popok

menggunakan boneka, dan sebagainya. Sayang, banyak laki-laki yang tidak percaya diri untuk mengasuh anak. Sebaliknya, istri jangan lalu mengejek suaminya, misalnya ketika salah memandikan bayi.

Untuk menjadi ayah yang baik memang tidak mudah. “Seperti saya yang tukang seminar. Kalau pulang ke rumah saya sering diprotes anak. Papi tadi omong begitu buktinya begini. Papi ini katanya psikolog tapi sama anaknya sendiri saja enggak ngerti,” papar Irwanto mengambil contoh dirinya sendiri menghadapi anaknya yang usia SD, yang umumnya sangat kritis terhadap ayah.

Nah, agar anak tak kecewa, harus diupayakan menyediakan waktu khusus untuk mereka. Kalau hal ini diabaikan, orang tua akan sukar untuk bisa dekat dengan anak. Dengan waktu yang terbatas orang tua tidak bisa berbicara banyak. Dalam arti memberi peluang seluas-luasnya bagi anak untuk bercerita dan didengarkan. Sebaliknya, seringnya pertemuan juga tak menjamin keharmonisan apabila di dalamnya selalu diwarnai percekcokan. “Jadi, waktunya jangan terlalu besar dan mutunya jangan terlalu buruk,” ujar Irwanto.

Sempitnya waktu yang sering dijadikan alasan tidak bisa kontak lebih lama dengan anak sebenarnya dapat dicarikan jalan keluar. Sekali lagi Irwanto mengambil contoh dirinya sendiri. Sebagai peneliti senior yang sibuk, ia berusaha selalu menyediakan waktu, dengan mengantarkan anaknya ke sekolah atau menemani berenang. Apa yang dia lakukan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sebagai ayah. Soalnya, selama dua tahun terakhir sebelas kali harus ke luar negeri dalam setahun. Belum lagi jadwal perjalanan ke luar kota di dalam negeri. “Makanya, kalau pada hari-hari libur saya diminta sebagai pembicara, saya minta diperbolehkan membawa keluarga.”

Secara psikologis pun kalau orang tua sering bertemu dan berdialog dengan anak, anak akan menghormati orang tuanya. Dari berbagai literatur terungkap, semakin besar dukungan ayah terhadap anak, semakin tinggi perilaku positif anak. Jadi, ayah yang selalu mendukung dan menunjukkan perhatiannya itu akan mereduksi perilaku negatif si anak.

 

Seperti perahu dayung

Hubungan antara ayah dan anak ada yang menggambarkan seperti dua orang yang berperahu dayung, keduanya harus saling mengisi. Pada suatu saat, sang ayah harus mendayung kuat atau lemah untung mengimbangi kemampuan mendayung sang anak. Mereka juga harus sering berkomunikasi satu sama lain bila melalui arus yang deras. Apabila komunikasi berjalan lancar, maka perjalanan itu akan menyenangkan dan akhirnya sampai ke tujuan dengan selamat.

Dalam pandangan Seto Mulyadi, psikolog, seorang ayah harus mengenali lima ciri anak untuk dapat membina komunikasi yang efektif. Yakni menyadari bahwa anak adalah pribadi yang masih suka bermain, masih terus berkembang, senang meniru, kreatif, dan bukan orang dewasa mini. Menurut dia, hubungan akan harmonis bila ayah mendengar aktif. Istilah ini berhubungan dengan proses mendengar di mana penerima berusaha untuk mengerti perasaan pengirim atau berusaha mengerti arti pesan yang dikirim. Melalui proses mendengar aktif terjadi semacam katarsis (kelegaan emosional) pada anak. Dengan begitu ortu memperlihatkan ia menerima perasaan anak, sehingga anak terdorong untuk dapat menerima perasaan-perasaannya sendiri.

Erik Erikson dari Universitas Harvard mengungkapkan, ayah yang efektif bisa dibentuk bila ia memfokuskan pada tujuh hal yakni menciptakan relasi yang sehat, menyediakan kebutuhan fisik dan keamanan, menerima adanya perubahan, menanamkan nilai-nilai moral, menanamkan nilai spiritual, menggali hal-hal yang menyenangkan, dan membantu anak mengembangkan kemampuannya.

Riset terbaru mengungkapkan, ayah yang “hangat” membuat anak lebih mudah menyesuaikan diri, lebih sehat secara seksual, dan perkembangan intelektualnya lebih baik. “Keterlibatan ayah dalam keluarga akan meningkatkan IQ anak sampai 6 – 7,” kata T. Berry Brazelton, seorang dokter anak. Di samping itu anak akan lebih memiliki rasa humor, lebih percaya diri, dan punya motivasi belajar.

Menurut Dr. Lousi B. Silverstein dari Universitas New York, AS, ada hubungan langsung antara pertemuan ayah-anak dan tingginya tingkat agresivitas anak, serta tingkah laku yang cepat dewasa pada anak perempuan.

Cuma masalahnya, bagaimana membina hubungan mesra antara ayah dan anak? Banyak yang bisa dilakukan, misalnya dengan bermain bersama, membantu membuat (dalam arti mengajari)pekerjaan rumah, dan meningkatkan kualitas maupun kuantitas kebersamaan dengan anak di rumah maupun di luar rumah. Contoh kebersamaan ini antara lain bisa ditempuh dengan cara seperti yang dilakukan pria profesional muda yang tinggal di bilangan Bekasi. Ia suka mengajak anaknya yang berumur lima tahun naik kereta api. Bukan kereta api jarak jauh, tetapi kereta api jurusan Jakarta Kota – Bogor. “Anak saya senang sekali,” katanya.

Satu hal yang juga perlu diperhatikan, jangan sampai kelimpahan materi menggusur hubungan pribadi. Bekerja keras merupakan keharusan, tetapi setiap ayah perlu menghindari godaan materi. Ayah yang bijaksana tahu bahwa relasi ayah-anak bukanlah soal material, tetapi kepuasan hidup. Itu bisa berarti sebuah pilihan. Misalnya saja, mana yang lebih penting, mempunyai rumah di atas tanah seluas 3.000 m2 dengan kolam renang yang indah, atau membuat setiap penghuni rumah merasa kerasan tinggal di dalamnya? Atau, mana yang lebih utama, mempunyai dapur yang indah atau kepastian setiap anggota keluarga bisa duduk bersama saat makan malam dan berbagi pengalaman?

Ayah yang efektif dan ayah yang tidak efektif bisa dinilai dari kenal-tidaknya mereka pada anaknya. Ayah yang efektif tahu apakah telah mengecewakan anaknya. Pun dia tahu hal-hal apa saja yang disukai anaknya. Ayah seperti ini juga tahu perbedaan anaknya dengan anak-anak tetangga. Mereka pun sangat peduli dengan karakter si anak.

Ken R. Canfield, pengarang buku The Seven Secrets of Effective Fathers yang meneliti 4.000 orang ayah sampai pada kesimpulan bahwa seorang ayah yang baik tahu keadaan anaknya bila sang anak tengah menghadapi masalah atau bagaimana harus meneguhkan hati anak.

Cara lain membina hubungan yang lebih baik dengan anak adalah melibatkan mereka dalam pekerjaan ayah. Kebanyakan anak memandang kantor, pabrik, atau toko tempat ayahnya bekerja sebagai sebuah tempat asing. Dengan sesekali mengajak anak ke tempat kerja akan membuat mereka kenal dengan kegiatan ayahnya sehari-hari. (G. Sujayanto)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: