Posted by: Inyong's | May 13, 2008

Jika Saluran Kencing Anda Terganggu

Diagnosa dan Terapi

Pengobatan
Tanpa Operasi Pembesaran Prostate Jinak

Apakah anda seorang pria yang
berusia di atas empat puluh tahun dan mengalami gangguan penyumbatan saluran
kencing atau kencing tidak lancar? Hati-hati, kemungkinan anda penderita
Pembesaran Prostat Jinak (PPJ)

Bila anda menemukan gejala klinis
pada saluran kencing anda yakni terjadinya sumbatan pada saluran kencing bagian
bawah (lower urinary tract symptoms),
segeralah periksakan ke dokter dan sebaiknya langsung pada spesialis Urologi.
Anda kemungkinan menderita pembesaran prostat jinak (PPJ). Gejalanya adalah,
terjadinya pancaran kencing yang melemah hingga tidak dapat buang air sama
sekali, rasa belum lampias sehabis kencing, menunggu lama waktu mau kencing,
buang air kecil harus terlebih dulu mengedan (straining), kencing yang terputus-putus atau kencing menetes.
Gejala itu yang disebut obstruksi. Kemudian ada pula yang disebut gejala
iritasi. Tanda-tandanya adalah sering kencing (frequensy) kencing malam lebih dari dua kali dan kencing sukar
ditahan (urgency).

Penyebab pembesaran prostat jinak
hingga saat ini masih belum dapat diketahui dengan pasti. Secara umum ada dua
factor utama, yakni bertambahnya usia dan berfungsinya sel  leydig pada
testis sebagai penghasil hormone
Androgen utama.

Namun sebelum menjelaskan lebih
jauh, kita perlu mengetahui dulu apa itu prostat. Prostat adalah organ kelamin pada pria berbentuk
kelenjar yang posisinya di bawah kantung kencing.  Besar prostat pada laki-laki normal adalah
sebesar biji kenari dengan berat sekitar 20 gram.  Fungsi prostat ini adalah sebagai penghasil
cairan semen (air mani) yang menjaga sperma agar tetap dalam kondisi hidup.

Pembesaran prostat jinak (PPJ) atau istilah asingnya Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran jinak dari
kelenjar prostate yang diderita umumnya laki-laki lanjut usia. Berdasarkan
hasil autopsy, 20% penderita PPJ terjadi pada usia 40 hingga 50 tahun, 50% pada
lelaki usia 51 hingga 60 tahun dan lebih dari 90% pada usia 80 tahun. Angka
kejadian pasti belum ada di Indonesia.

Proses terjadinya pembesaran prostate jinak dalam bahasa ilmiahnya adalah
perubahan testyeron menjadi dehidrostestosteron (DHT) di dalam sel
prostate menjadi factor masuknya DHT ke dalam inti sel prostate yang dapat
menyebabkan isnkripsi pada RNA. Terjadilah pembentukan protein yang menyebabkan
sel prostate bertambah banyak.

Gangguan yang terjadi pada pembesaran prostate jinak adalah sumbatan dan
iritasi  saluran kencing pada bagian
bawah. Terjadinya gejala sumbatan ini disebabkan oleh dua komponen, yakni oleh
penekanan yang bersifat menetap terhadap urethra (saluran kencing pada
kemaluan) dan ke dua karena komponen dinamik yang disebabkan peningkatan
tegangan dari kelenjar prostate yang diatur system saraf otonom. Reseptor yang
bertanggung jawab untuk tegangan otot polos prostate adalah  a-1 adreboreceptor (a-1-a) yang terdapat dalam
jumlah besar pada prostat dan leher buli-buli. Pengaktifan reseptor ini akan
merangsang terjadinya kontraksi otot polos prostate sehingga menaikan tahanan
prostate dan leher buli-buli yang selanjutnya mengakibatkan meningginya tekanan
dalam kantung kencing dan tahanan pada urethra hingga akhirnya akan menyebabkan
terjadinya sumbatan aliran kencing. Untuk mengatasi tahanan urethra yang meningkat
ini, pada awalnya otot destruser buli mengalami kompensasi dengan terjadinya
pembesaran (hipertrofi). Kemudian
masuk pada pase dekompensasi ditandai dengan tekanan dalam kantung kencing yang
lemah dan pembentukan kantong (divertikel)  pada kantung kencing.

 Diagnosis

Untuk pemeriksaan penyakit ini,
yang terpenting adalah pemeriksaan yang disebut colok dubur (rectal toucher) atau digital rectal examination untuk menilai
pembesaran atau penonjolan prostate. Konsistensi prostate pada pembesaran
prostate jinak akan teraba kenyal. Apakah ada nodul atau bagian keras yang
merupakan tanda keganasan prostat dan apakah ada batas prostate dapat dicapai
dengan jari, yang apabila masih dapat diraba secara empiris besar jaringan
prostate kurang dari 60 gram, maka jika terdapat nyeri tekan merupakan tanda adanya
infeksi prostate.

Di laboratorium, yang perlu
diperiksa adalah darah, urine dan prostate specific antigen untuk deteksi dini
kanker prostate. Pemeriksaan tambahan adalah mengukur pancaran urine maksimal
yang dinyatakan dalam cc/detik, lama berkemih dan volume urin yang keluar (voided volume) dengan alat
uroflowmetry. Sedangkan pengukuran sisa urine yang tertinggal dalam buli-buli
dapat diukur dengan menggunakan USG transabdominal.

Volume prostate (dalam satuan cc)
dapat diukur dengan menggunakan alat TRUS
(Trans Rectal Ultrasonogrpahy). TRUS dapat pula mendeteksi kemungkinan
keganasan prostate degan memperlihatkan adanya daerah hypoedoic. Jika dicurigai
adanya keganasan tersebut dapat dilakukan langsung biopsy prostate dengan jarum. Pemeriksaan TRUS juga dapat melihat
adanya pelebaran pembuluh darah pada prostate yang sering ditemukan pada
penderita infeksi prostate. TRUS selain dapat memeriksa prostate dalam keadaan
buli-buli penuh, juga dapat mendeteksi adanya batu dalam kantung kencing dan
mendeteksi bagian prostat yang menonjol ke kantung kencing untuk meramalkan
derajat beratnya sumbatan.  Jika
ditemukan gejala kencing berdarah (hematura),
infeksi saluran kemih, batu saluran kencing, penurunan fungsi ginjal atau
riwayat operasi saluran kencing, 
diperlukan pula pemeriksaan radiology lainnya.

Komplikasi

Jika pembesaran pada prostate ini
dibiarkan tanpa adanya pengobatan, akan terjadi komplikasi timbulnya otot buli
yang menebal (trabekulasi), sakulasi
pada otot detrusor buli dan akhirnya
terbentuk kantong pada buli-buli. Komplikasi lain adalah terbentuknya batu
buli-buli, terjadinya ureter yang melebar, ginjal yang melebar hingga terjadi
penurunan fungsi ginjal sampai kepada gagal ginjal akibat sumbatan aliran
urine. Sumbatan total urine juga dapat terjadi pula karena ngompol akibat isi
buli sudah terlalu penuh.

Penyembuhan

Umumnya penderita baru minta
pertolongan ketika sudah sangat merasa terganggu, yakni ketika ada keluhan
obstruktif dan iritasi seperti yang telah disebutkan atau bahkan ketika sudah
tidak dapat kencing sama sekali. Tentu saja hal ini sudah terlambat.

Pilihan pengobatan menunggu (watchfull waiting) dilakukan dengan
observasi secara berkala setiap tiga bulan. Biasanya pilihan pengobatan hanya
dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan. Nasihat yang diberikan adalah
agar penderita mengurangi minum setelah makan malam. Hal ini agar mengurangi
kencing pada malam hari. Penderita juga disarankan menghindarkan penggunaan obat-obatan
flu yang mengandung dekongestan (parasimpatolitik),
mengurangi minum kopi dan dilarang meminum alcohol agar tidak sering kencing.
Penderita dianjurkan untuk melakukan pengontrolan atas keluhannya, melakukan uroflowmetry serta jumlah sisa kencing
setiap tiga bulan. Jika terjadi proses yang lebih buruk, sebaiknya mulai
dilakukan pengobatan dengan atau tanpa operasi.

3 macam pengobatan dengan
obat-obat yang dianggap rasional yaitu dengan penghambat adrenergic a,
penghambat enzyme 5 a reduktase dan phitoteraphy (terapi dengan
tumbuh-tumbuhan). Dengan cara teraphy seperti ini adalah kapan sebaiknya
pengobatan dimulai dan untuk berapa lama pengobatan diberikan. Selain itu juga
harus diperhatikan efek samping dari obat tersebut serta harga obat yang belum
terjangkau untuk Negara berkembang seperti di Indonesia, karena obat yang
diberikan adalah untuk jangka panjang.

Pegobatan invasive/pembedahan
biasanyaditujukan untuk menghilangkan atau mengurangi jaringan prostate. Cara operasi yang dikenal dan sering dilakukan
adalah dengan operasi terbuka (open
prostectomy) yang saat ini sudah ditinggalkan. Atau juga dengan cara
endoskopi yang sering disebut dengan Trans
Resection of the prostate (TUR-P).

Saat ini di Indonesia sering dikembangkan tindakan invasive nibial yang
ditujukan kepada pasien yang tergantung dengan obat-obatan dan pada pasien yang
mempunyai resiko tinggi pembedahan. Misalnya : riwayat penyakit jantung,
riwayat operasi bypass jantung, riwayat stroke dan lain-lain. Tindakan ini pada
prinsipnya menggunakan energi panas yang dihasilkan dari suatu alat untuk
mengurangi volume prostate.

Pengobatan Tanpa Operasi

TUNA atau Trans Urethral Needle
Ablation teraphi adalah sitem pengobatan tanpa operasi. Cara ini diperkenalkan
tahun 1994 dan saat ini telah diaklui oleh AUA (American Urological
Association) . Inilah cara pengobatan yang efektif, cepat dan aman. Melalui
sa;luran kencing pada alat kelamin pria, jaringan prostate akan disuntik dengan
jarum dan peralatan.  TUNA ini akan
memancarkan gelombang radio yang menghasilkan energi panas langsung ke
prostate. Energi dan gelombang radio ini akan menghancurkan bagian prostate
yang membesar agar saluran kencing terbuka kembali dan akhirnya pancaran
kencing menjadi normal.

Pengobatan berlangsung sekitar 30
menit. Hal ini dapat dilakuakn di poliklinik atau rumah sakit dengan hanya
memakai bius local yaitu berupa jelly yang dimasukkan ke dalam saluran kencing
dan obat penghilang rasa sakit bagi pasien tidak bisa dibius akibat penyakit
berat.

Dr. Johan R. Wibowo, SpU (spesialis
bedah urologi)

 

 


Responses

  1. terima kasih atas tulisan anda, yang kebetulan sangat mirip dengan yang diderita oleh orang tua saya. Untuk penyembuhan tanpa operasi di RS mana yang ada saya tinggal di Kota surabaya dan berapa biaya pengobatan ! apa dapat sembuh normal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: